Jumat, 06 November 2015

Perspektif Akuntansi



BAB I
PENDAHULUAN

A.           Latar Belakang
Akuntansi ada karena aktivitas komersial dan berbasis transaksi ekonomi baik yang dilakukan individu maupun entitas. Namun, faktanya bahwa praktik akuntansi antara kelompok-kelompok tertentu di berbagai negara jauh berbeda. Oleh karena itu, diperlukan sudut pandang tertentu yang mendasari akuntansi dari berbagai faktor, termasuk sejarah dan budaya, nilai-nilai masyarakat, sifat kegiatan ekonomi dan tujuan yang mempersiapkan, menafsirkan dan menerapkan informasi akuntansi.
Terminologi akuntansi dapat dirumuskan dari dua sudut pandang, yaitu dari sudut pandang pemakai dan sudut proses kegiatannya. Ditinjau dari sudut pemakainya, akuntansi adalah suatu disiplin yang menyediakan informasi yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan secara efisien dan mengevaluasi kegiatan-kegiatan suatu organisasi. Informasi yang dihasilkan akuntansi diperlukan untuk membuat perencanaan yang efektif, pengawasan, dan pengambilan keputusan oleh manajemen, dan pertangungjawaban organisasi kepada para investor, kreditur, badan pemerintah, dan sebagainya. Dari sudut pandang kegiatannya, akuntansi adalah suatu proses pencatatan, penggolongan, peringkasan, pelaporan, dan penganalisaan data keuangan suatu organisasi. Pengertian ini menunjukan bahwa kegiatan akuntansi merupakan tugas yang kompleks dan menyangkut bermacam-macam kegiatan. Pada dasarnya akuntansi harus mengidentifikasi data nama yang berkaitan atau relevan dengan keputusan yang akan diambil, memproses atau menganalisis data yang relevan, serta mengubah data menjadi informasi yang dapat digunakan untuk pengambilan keputusan.
Accountant Public Board menggolongkan akuntansi sebagai "kegiatan pelayanan", yang merupakan deskripsi yang lazim diakui dan diterima oleh akuntan. Pada umumnya, sudut pandang akuntansi tidak selalu didukung berdasarkan pada hal yang diukur dengan logika, melainkan hanya pada sudut pandang pemerintah, kelompok atau individu yang menerima dan mendukung. Argumen yang sama dapat dibuat terhadap politik agama yang didasarkan pada keyakinan mendasar. Dengan demikian, berlatih dan belajar akuntansi sangatlah penting untuk memahami serta mempertimbangkan atau mengadopsi perspektif (sudut pandang) tertentu di dalam praktik akuntansi.




























BAB II
PEMBAHASAN

A.      Sudut Pandang Akuntansi
Akuntansi lahir karena adanya aktivitas komersial, transaksi berbasis ekonomi, dan entitas individu yang membentuk pasar. Tujuan yang mendasari lahirnya akuntansi adalah sebagai pengukuran dan pelaporan dari kegiatan ekonomi suatu entitas. Namun, saat ini hal tersebut telah diperluas hingga akuntansi dapat mempengaruhi kegiatan entitas. Tentunya, hal tersebut telah mengakibatkan perubahan yang signifikan terhadap perusahaan-perusahaan.
Sudut pandang akuntansi didasari oleh berbagai faktor, termasuk sejarah dan budaya, nilai-nilai sosial, sifat kegiatan ekonomi dan tujuan yang mempersiapkan, menafsirkan dan menerapkan informasi akuntansi. Selain itu, sudut pandang akuntansi juga seringkali didasari oleh sudut pandang penerimaan dan dukungan dari pemerintah, kelompok, atau indinvidu, misalnya berkenaan dengan politik atau agama.
Menurut Godfrey et al (2000:82), “Faktor utama lain yang mempengaruhi berbagai sudut pandang akuntansi adalah bahwa ada banyak pemakai potensial informasi akuntansi, yang mewakili berbagai perspektif, yang sering menyebabkan pertanyaan : perspektif siapa yang harus diambil dalam proses akuntansi?”.
SAC 2 (dalam Godfrey et al, 2000:83) menyatakan bahwa tujuan umum laporan adalah untuk memberikan informasi yang berguna untuk membuat keputusan yang mengevaluasi tentang alokasi sumber daya yang langka (ayat 43). Pertanyaan tersisa yang belum terselesaikan adalah : keputusan siapa dan dalam konteks apa? Oleh sebab itu, SAC 2 mengelompokkan pengguna utama akuntasi menjadi tiga, yaitu :
       Sumber daya penyedia (pemegang saham dan pemegang utang),
•   Penerima barang dan jasa (pelanggan),
•   Pihak yang melakukan pengawasan (auditor independen, manajemen dan pemerintah).
Tidak semua pengguna memiliki sudut pandang yang sama ketika mereka melihat laporan akuntansi untuk membuat keputusan.

B.      Batas Asumsi
Sudut pandang akuntansi yang disajikan mempunyai serangkaian batas-batas asumsi atau prinsip suatu entitas. Pada dasarnya, batas asumsi ini diciptakan dalam rangka untuk mengukur dan melaporkan informasi, karena kegiatan dan sarana penunjang kegiatan suatu entitas perlu didefinisikan.
Pada tahun 1988 Australian Accounting Research Foundation (AARF) (dalam Godfrey et al, 2000:84) mengeluarkan Teori Akuntansi Monografi 8 – Definisi entitas pelaporan, yang ditulis oleh Dr Ian Ball. Ball berfokus pada konsep entitas pelaporan yang berkaitan dengan 'batas-batas suatu entitas’. Ball berpendapat bahwa meskipun pentingnya konsep entitas pelaporan telah terjadi perdebatan yang terbatas mengenai definisi dan karakteristik dari entitas pelaporan. Ball mengusulkan definisi universal konsep entitas pelaporan yang dianggap konsisten dengan SAC 2 terkait tujuan umum laporan keuangan dan tujuan utama para pengguna akuntansi. Perhatian utama Ball adalah bahwa batas-batas entitas pelaporan diidentifikasi dengan mengacu pada kepemilikan atau kontrol, di mana kontrol berkaitan dengan 'kemampuan untuk mengarahkan penyebaran sumber daya'.
Mengingat bahwa ada banyak pengguna potensial informasi akuntansi yang mewakili berbagai perspektif, serta tujuan umum dari laporan adalah untuk memberikan informasi yang berguna untuk membuat dan mengevaluasi keputusan, maka diperlukan batas asumsi karena tidak semua pengguna memiliki perspektif yang sama ketika mereka melihat laporan akuntansi untuk membuat keputusan.

C.      Definisi Entitas Pelaporan
Menurut Godfrey et al (2000:85), “Sebuah entitas pelaporan adalah unit atau kegiatan yang mengontrol pemanfaatan sumber daya yang langka untuk menghasilkan manfaat ekonomi atau layanan potensi yang dinilai cukup signifikan untuk menjamin penyusunan laporan keuangan untuk digunakan dalam pengambilan keputusan ekonomi dan akuntabilitas”.
Penjabaran terkait definisi di atas adalah sebagai berikut :
·                Setiap unit atau kegiatan meliputi hukum, administrasi, entitas ekonomi, akuntansi atau lainnya.
·                Kegiatan atau unit harus dilatih, atau memiliki kemampuan untuk mengontrol penggunaan sumber daya yang langka.
·                Sumber daya yang digunakan untuk mencapai tujuan dari unit atau kegiatan, tercermin dalam manfaat ekonomi atau layanan potensi.
·                Cukup signifikan menyiratkan relevansi untuk tujuan pengambilan keputusan dan atau akuntabilitas dan aplikasi penilaian. Misalnya, manfaat bagi pengguna eksternal dari informasi yang terkandung dalam laporan keuangan. Dalam konsep lain berkaitan dengan kriteria biaya, yang biasanya akan tercermin dalam status keuangan, ekonomi, politik atau sosial dari suatu entitas.
·                Tujuan umum laporan keuangan ini dimaksudkan untuk menyampaikan informasi kepada pengguna eksternal untuk unit atau kegiatan yang tidak mampu menyusun laporan keuangan tersebut.

D.      Teori Kepemilikan
Menurut teori kepemilikan (Proprietary Theory) (dalam Godfrey et al,2000:86), entitas adalah agen, perwakilan, atau pengaturan dimana wirausahawan individual atau pemegang saham beroperasi. Littleton menyatakan kepemilikan itu adalah 'substansi' dari double-entry system. Tanpa itu, tidak ada alasan mengapa debet harus sama dengan kredit dan pembukuan double-entry hanya menjadi seperangkat aturan. Sudut pandang ini berasal dari abad ke-18 ketika beberapa penulis menyajikan logika akuntansi berdasarkan pada tujuan dari perusahaan, sifat modal dan makna rekening dari sudut pandang pemilik. Pemilik adalah pusat perhatian. Semua konsep akuntansi, prosedur dan aturan dirumuskan dengan berfokus pada keuntungan bagi kepentingan pemilik. Hal ini berlaku bahkan bagi perusahaan, yang dipandang sebagai alat yang digunakan oleh para pemegang saham dan pemilik yang berusaha untuk mencapai tujuan mereka yaitu untuk meningkatkan kekayaan mereka.

1.             Rekening Neraca
Berikut ini persamaan akuntansi yang menangkap esensi dari teori kepemilikan :
Dimana A merupakan aset, L merupakan Utang dan P merupakan ekuitas pemilik. Sprague (dalam Godfrey et al, 2000:87) menyatakan bahwa :
“Neraca kepemilikan adalah penjumlahan pada beberapa waktu tertentu dari semua elemen yang merupakan kekayaan dari beberapa orang atau kumpulan orang-orang ... Seluruh tujuan dari perjuangan bisnis adalah peningkatan kekayaan, yaitu, peningkatan kepemilikan.”

Dalam hal ini, kita dapat melihat bahwa tujuan dari akuntansi adalah untuk menentukan kekayaan bersih dari pemilik. Karena itu, beberapa akuntan percaya bahwa nilai saat ini lebih relevan daripada biaya historis. Teori ekonomi perusahaan mengambil pandangan tersebut, dengan penekanan pada peran dari pemilik pengusaha. Ekonom dikenal mendukung penggunaan nilai saat ini dalam akuntansi.

2.             Pendapatan
Pendapatan dapat diperoleh dan biaya dikeluarkan, merupakan keputusan dan tindakan dari pemilik atau wakilnya. Pendapatan adalah peningkatan kepemilikan, biaya adalah penurunan kepemilikan. Vatter (dalam Godfrey et al, 2000:87) menjelaskan bahwa :
“Teori berpasangan ganda didasarkan pada gagasan bahwa biaya dan rekening pendapatan memiliki karakteristik yang sama seperti 'kekayaan bersih'. Yaitu rekening yang cenderung untuk meningkatkan kekayaan bersih yang meningkat sebesar kredit, rekening yang cenderung menurunkan nilai bersih yang ditangani dalam urutan terbalik”

Pendapatan merupakan peningkatan kekayaan pemilik dari operasi bisnis selama periode tertentu. Semua aspek yang mempengaruhi perubahan kekayaan pemilik dalam periode tertentu harus dimasukkan dalam pendapatan.

3.             Pengaruh pada Praktek
Untuk sebagian besar, praktik akuntansi ini didasarkan pada teori kepemilikan. Dividen lebih dianggap sebagai distribusi pendapatan daripada biaya karena mereka melakukan pembayaran kepada pemilik. Di sisi lain, bunga utang dan pajak penghasilan dianggap beban karena mengurangi kekayaan pemilik. Untuk kepemilikan tunggal dan kemitraan, gaji yang dibayarkan kepada pemilik yang bekerja dalam bisnis tidak dianggap beban, karena pemilik perusahaan adalah entitas yang sama dan tidak dapat membayar diri sendiri dan mengurangi itu sebagai beban.
Dalam laporan keuangan konsolidasi, metode induk perusahaan didasarkan pada teori kepemilikan. Perusahaan induk dipandang sebagai 'pemilik' anak perusahaan. Hak minoritas, dari sudut pandang 'pemilik' anak perusahaan, mewakili pernyataan dari kelompok luar. Meskipun minoritas tampaknya tidak cocok dengan definisi AARF tentang kewajiban, di bawah teori perusahaan induk tidak ada pilihan selain menganggapnya sebagai sebuah kewajiban pada neraca.
Syarat yang mengakui pernyataan kepemilikan dan mencerminkan teori kepemilikan, yang umum dalam akuntansi, seperti pendapatan kepada pemegang saham, laba per saham dan nilai buku per saham (backing asset).
Dalam pemilihan indeks harga umum untuk penyesuaian tingkat harga, teori kepemilikan akan mengharuskan kita untuk mempertimbangkan kepentingan pemilik, sebagai seorang individu yang berkaitan dengan memuaskan keinginan ekonominya. Ini akan membawa kita kepada indeks harga konsumen. Modal keuangan lebih baik daripada modal fisik, sesuai dengan pandangan konsep kepemilikan. Yang pertama menekankan investasi keuangan dari pemilik, sedangkan yang kedua berfokus pada kemampuan perusahaan untuk mempertahankan tingkat operasional fisik tanpa memperhatikan pernyataan kepemilikan. Melalui pendekatan kepemilikan, logis untuk mempertimbangkan penurunan nilai kewajiban sebagai keuntungan perusahaan induk.

4.             Konsep Modal Keuangan
Pandangan kepemilikan melihat adanya perbedaan antara kekayaan pemilik dengan kekayaan entitas. Oleh karena itu, semua keuntungan entitas didistribusikan kepada pemilik perusahaan. Jika entitas memerlukan sumber daya tambahan, dana ini tersedia dari sumber daya pemilik pribadi.
Karena sudut pandang kepemilikan menganggap aset dan kewajiban dari pemilik, penggunaan potensi kekayaan bersih tidak dibatasi dan berpotensi dapat digunakan untuk membeli barang dan jasa secara umum. Untuk alasan ini, pemilik berkaitan dengan mempertahankan modal entitas dalam hal tingkat harga umum.
Dengan kata lain, pandangan kepemilikan mempertahankan nilai finansial dari modal entitas, dengan mempertimbangkan perubahan dalam tingkat harga umum (dilihat dari modal keuangan). Dari perspektif ini, modal merupakan kas yang diinvestasikan oleh pemilik ditambah laba yang ditanam kembali oleh retensi dalam bisnis. Kebanyakan orang mengadopsi pandangan keuangan dilihat dari modal dan juga posisi yang diambil dalam praktek akuntansi konvensional tradisional.
Bagi mereka yang percaya pada pemeliharaan modal keuangan, 'well-offness' atau modal yang berhubungan dengan kemampuan untuk menginvestasikan uang dalam jumlah yang sama pada akhir periode pelaporan diawal periode. Pendapatan adalah jumlah kas yang diterima oleh perusahaan atas investasi kas oleh pemilik ke dalam perusahaan.
Salah satu cara untuk melihat hal ini adalah untuk memikirkan modal entitas dalam hal kemampuannya untuk membeli barang dan jasa. Misalnya, jika modal pada awal tahun keuangan akan memungkinkan perusahaan untuk membeli televisi 1000, maka modal pada akhir tahun keuangan juga harus mampu membeli 1000 set televisi setara. Keuntungan di atas kekayaan bersih ini dianggap sebagai pendistribusian kepada pemilik.
Singkatnya, pandangan kepemilikan mempertahankan nilai modal keuangan dari entitas dengan mempertimbangkan perubahan dalam tingkat harga umum.

5.             Keterbatasan
Pandangan kepemilikan dalam akuntansi dikembangkan bagi usaha kecil dan terutama perseorangan dan kemitraan. Dengan munculnya perusahaan, teori ini terbukti tidak memadai sebagai dasar untuk menjelaskan akuntansi perusahaan. Secara hukum, perusahaan adalah entitas yang terpisah dari pemilik dan memiliki hak sendiri. Dengan demikian, dibutuhkan kepemilikan aset dan mengasumsikan kewajiban bisnis, bukan pemegang saham. Tidak hanya perusahaan yang memikul kewajiban dari bisnis, tetapi pemegang saham juga bertanggung jawab atas kewajiban perusahaan. Jika pemegang saham dari sebuah perusahaan besar ingin menggunakan hak dugaan kepemilikan mereka dengan menarik aset, mereka akan bertabrakan dengan hukum. Penarikan uang tunai (dividen) sebenarnya adalah distribusi oleh prosedur hukum formal.

E.      Teori Entitas
Teori entitas (entity theory) dirumuskan sebagai respon terhadap  kekurangan dari pandangan kepemilikan tentang perusahaan. Teori entitas diawali dengan fakta bahwa perusahaan adalah entitas yang terpisah dengan identitas pemiliknya. Teori entitas bergerak melampaui 'konvensi entitas' mengenai pemisahan antara urusan perusahaan dan urusan pribadi. Sebab apabila vendor susu memisahkan pembukuannya untuk tujuan bisnis, ini tidak berarti bahwa perusahaan tersebut menggunakan pandangan teori entitas. Sebab dalam konsep kepemilikan, pandangan pemisahan bisnis dari urusan pribadi ini pun digunakan.
Martin (dalam Godfrey et al, 2000:91) menguraikan dua asumsi yang terkait dalam mewujudkan gagasan entitas akuntansi :
·      Pemisahan. Untuk tujuan akuntansi, perusahaan dipisahkan dari pemiliknya.
·      Sudut pandang. Prosedur akuntansi dilakukan dari sudut pandang entitas.
Menurut Godfrey et al (2000:91) mengungkapkan bahwa :
“Meskipun teori entitas sangat cocok untuk akuntansi perusahaan, para pendukung teori ini percaya bahwa hal itu dapat diterapkan untuk perseorangan, kemitraan, dan bahkan organisasi nirlaba, asalkan :
·      Akun-akun dan transaksi diklasifikasikan dan dianalisis dari sudut pandang entitas sebagai unit operasi.
·      Prinsip Akuntansi dan prosedur tidak dirumuskan dalam hal kepentingan tunggal, seperti kepemilikan.”

Paton (dalam Godfrey et al, 2000:91) menyatakan bahwa :
“Perusahaan ini adalah 'bisnis' yang pembukuan laporan keuangan dan akuntan mencoba untuk mencatat dan menganalisa; buku-buku dan rekening (akun) adalah catatan 'bisnis'; laporan periodik untuk operasional dan kondisi keuangan adalah laporan dari 'bisnis'”

Entitas bukanlah seseorang dan tidak dapat bertindak atas kemauan sendiri. Entitas adalah sebuah institusi, tapi meskipun demikian entitas merupakan “hal yang sangat nyata”, pendapat Paton (dalam Godfrey et al,2000:91). Sebab entitas memiliki keberadaan nyata dan terukur, bahkan memiliki kepribadian sendiri. Bagi perusahaan, setelah modal saham dikeluarkan, kehidupan perusahaan tidak lagi tergantung pada kehidupan pemegang saham. Secara umum, dari perspektif akuntansi, suatu entitas dapat didefinisikan sebagai setiap area kepentingan ekonomi yang memiliki keberadaan yang terpisah dari pemiliknya.
Saat ini, konsep entitas telah diperluas oleh organisasi-organisasi besar untuk mencerminkan kepentingan dari berbagai pihak yang berkepentingan. Dalam hal ini entitas memberikan kerangka dasar yang menjadi acuan, adopsi bentuk-bentuk baru yang diiintegrasikan dalam keuangan, lingkungan dan faktor kondisi sosial. Pendekatan yang kemudian muncul dijelaskan oleh Elkington (dalam Godfrey et al,2000:92) sebagai 'pelaporan triple bottom line'. Pendekatan ini berkaitan dengan melaporkan dampak dari kegiatan organisasi pada berbagai stakeholder, selain kepentingan pemegang saham.
Perusahaan berdiri untuk menciptakan kesejahteraan, sehingga kontribusi langsung mereka untuk membuat pembangunan yang berkelanjutan adalah menciptakan nilai ekonomi jangka panjang, kondisi sosial dan lingkungan yang berkelanjutan. Singkatnya, satu kunci tantangan abad kedua puluh adalah 'penciptaan nilai berkelanjutan'.
Intinya bahwa organisasi semakin menyadari bahwa perspektif tunggal pemegang saham menciptakan kecurigaan dan tuntutan dari masyarakat luas untuk peningkatan tingkat keterbukaan perusahaan. Tanggapan dari beberapa perusahaan untuk memperluas dari pandangan entitas berkaitan dengan dampak organisasi untuk pihak yang berkepentingan secara luas.

1.             Dua Pandangan Entitas
Apa tujuan akuntansi dalam pandangan entitas? Ada dua versi dari teori entitas tetapi masing-masing mengarah pada kesimpulan yang sama yaitu bahwa pengelolaan atau akuntabilitas adalah signifikansi utama. Versi tradisional teori entitas menyatakan bahwa perusahaan bisnis beroperasi untuk kepentingan pemilik modal, pihak-pihak yang menyediakan dana untuk entitas. Oleh karena itu, entitas harus memberikan pertanggungjawaban kepada para pemilik modal untuk melaporkan status dan konsekuensi dari investasi mereka pada perusahaan. Penafsiran baru melihat entitas beroperasi untuk dirinya dan tertarik pada kelangsungan hidupnya sendiri. Untuk mengatasi permasalahan entitas dalam kelangsungan hidupnya maka badan usaha menggunakan akuntansi bagi pemilik modal dalam rangka memenuhi persyaratan hukum dan juga untuk menjaga hubungan baik dengan mereka untuk memudahkan jika dimasa yang akan datang memerlukan tambahan dana.
Meskipun kedua versi berfokus pada entitas sebagai unit independen, pandangan tradisional terlihat lebih menekankan kepada pemilik modal sebagai 'rekan' dalam bisnis, sedangkan pandangan yang lebih baru melihat pemilik modal sebagai orang luar perusahaan. Dalam beberapa tahun terakhir kandungan informasi dari laporan akuntansi untuk pengambilan keputusan lebih ditekankan pada mudahnya asimilasi antara interpretasi dari kedua pandangan teori entitas tersebut.

2.             Neraca
Kekayaan bersih pemilik bukanlah konsep yang berarti, karena entitas adalah pusat perhatian. Pemilik dan kreditur dipandang hanya sebagai pemegang modal, penyedia dana. Persamaan akuntansi adalah:
Aset = Ekuitas
Paton (dalam Godfrey et al, 2000: 94) percaya bahwa persamaan adalah ekspresi yang paling logis dari kondisi keuangan perusahaan. Ekuitas merupakan hak atau klaim atas aset entitas. Kreditor memiliki klaim khusus dan pemegang saham memiliki klaim residual atas aset dalam kasus pembubaran. Dari sudut pandang entitas, bagaimanapun kreditur dan pemegang saham merupakan penyedia dana. Pemegang saham tidak memiliki klaim untuk setiap aset tertentu, bahkan untuk pendapatan perusahaan. Mereka hanya memiliki hak terhadap total aset dan dividen saat diumumkan oleh dewan direksi. Namun, ini adalah hak yang diterima oleh kesepakatan kontraktual, bukan karena kepemilikan.
Neraca menunjukkan aset entitas, yang Paton sebut (dalam Godfrey et al, 2000:94) sebagai mewakili 'langsung' pernyataan nilai untuk entitas, dan ekuitas yang ia sebut sebagai penyataan 'tidak langsung' dari total yang sama. Aset milik perusahaan dan kewajiban adalah kewajiban dari perusahaan, bukan pemilik. Telah dikatakan bahwa karena jumlah yang diinvestasikan oleh pemilik modal harus dipertanggung jawabkan, maka tujuan ini logis mengarah ke penggunaan biaya historis untuk aset nonmoneter, karena total pada sisi kanan neraca harus sama dengan total di sebelah kiri. Setelah menerima dana yang disediakan oleh pemilik modal, perusahaan menginvestasikan dana di aset. Pemilik modal juga tertarik pada perubahan nilai investasi mereka. Pendukung nilai sekarang menunjukkan bahwa teori entitas mengasumsikan bahwa investor tidak cukup dekat pada bisnis yang dilakukan perusahaan. Oleh karena itu, akuntabilitas harus berarti bahwa penyesuaian yaitu perubahan nilai, dilaporkan kepada investor. Hal ini juga dapat dikatakan bahwa entitas perlu mengetahui nilai-nilai saat ini dari aset dalam rangka untuk membuat keputusan yang benar.

3.       Pendapatan
Berdasarkan konsep kepemilikan, penentuan kekayaan bersih pemilik adalah perhatian utama. Oleh karena itu, neraca adalah sangat penting. Untuk teori entitas, penekanannya pada penentuan pendapatan dan oleh karena itu akun Laba Rugi lebih relevan daripada neraca. Menurut Godfrey et al (2000:94) ditekankan pada pendapatan adalah karena dua alasan :
·      Para penanam modal terutama tertarik pada pendapatan, karena jumlah ini menunjukkan hasil dari investasi mereka untuk suatu periode.
·      Alasan untuk keberadaan perusahaan adalah untuk membuat keuntungan. Hal ini diperlukan untuk kelangsungan hidup perusahaan.
Pendapatan adalah apa yang dihasilkan oleh entitas. Sebenarnya, pendapatan dalam teori entitas harus didefinisikan sebagai perubahan dalam aktiva bersih dari perusahaan daripada perubahan modal. Penekanannya adalah pada pendapatan dan beban, pemasukan hanyalah perbedaan.
Pendapatan didefinisikan sebagai arus masuk aset atas transaksi yang dilakukan oleh perusahaan berkaitan dengan produk. Dalam teori kepemilikan, beban dilakukan dengan pengeluaran yang akhirnya mengurangi kekayaan bersih pemilik. Dalam teori entitas, biaya berkaitan dengan biaya aset dan layanan lain yang digunakan oleh perusahaan untuk menciptakan pendapatan untuk periode tersebut. Beban mengurangi nilai aset entitas. Konsep kepemilikan menekankan pada sisi kanan neraca, yaitu P dari rumus akuntansi tersebut. Konsep entitas berfokus pada sisi kiri neraca, yaitu aset. Alasannya adalah bahwa asset dianggap memperlihatkan hal “nyata” yang dikerjakan perusahaan, sedangkan ekuitas yang lebih abstrak, yang berkaitan dengan cara klaim atas asset, secara 'tidak langsung' seperti Paton mengatakan dilihat dari nilai aset.
Karakteristik dasar dari pendapatan adalah pendapatan menciptakan lebih banyak aset sedangkan biaya pada akhirnya mengurangi aset (jasa) : Teori akuntansi, oleh karena itu, harus menjelaskan konsep pendapatan dan biaya dalam hal perubahan aset perusahaan bukan sebagai kenaikan atau penurunan ekuitas pemilik atau pemegang saham.
Pendapatan yang dihasilkan adalah untuk perusahaan. Jika memang demikian, mengapa kemudian itu ditutup ke saldo laba seolah-olah itu milik pemegang saham? Paton dan Littleton berpendapat bahwa pemegang saham memiliki klaim sisa kontrak pada total aset dan untuk alasan tersebut maka pendapatan ditempatkan di saldo laba. Para pemegang saham mendapatkan sisa, setelah kreditur telah dibayar. Penjelasan ini berkembang dari versi konvensional teori ekuitas. Penafsiran baru menyatakan bahwa akun laba ditahan sebagai ekuitas perusahaan atau investasi itu sendiri.
Jika pendekatan konvensional untuk teori entitas diikuti sampai akhir logisnya, maka beban bunga harus dianggap sebagai distribusi pendapatan bukan biaya. Beban bunga adalah pembayaran kepada kreditur untuk penggunaan uang mereka, dividen kepada para pemegang saham. Karena kreditur dan pemegang saham berada dalam posisi yang sama dalam teori entitas, yaitu sebagai penyedia dana maka beban bunga dan dividen harus berada dalam kategori yang sama. Beberapa juga berpendapat bahwa pajak penghasilan adalah distribusi pendapatan. Teori kepemilikan mempertahankan bahwa pajak penghasilan yang dibayar untuk layanan pemerintah tertentu, seperti perlindungan terhadap kekuatan asing, pengaturan tingkat persaingan, mencegah praktik tidak adil, dll dan oleh karena itu pajak penghasilan adalah biaya bisnis. Tapi Paton (dalam Godfrey et al, 2000:95) berpendapat bahwa pajak tidak mewakili biaya untuk item tertentu atau layanan tetapi 'dipaksa'. Selain itu, pembayaran tidak berada dalam proporsi langsung untuk setiap manfaat yang diterima dari pemerintah. Kontribusi pemerintah terhadap keberhasilan perusahaan adalah faktor 'sepenuhnya di luar hukum pasar’. Namun menurut definisi, pajak penghasilan adalah bagian dari pendapatan. Oleh karena itu, pemerintah memperoleh suatu ekuitas yang berlaku di perusahaan tanpa peralatan modal apapun. Paton percaya bahwa pajak penghasilan harus diperlakukan sebagai distribusi hilangnya pendapatan, tapi bukan beban.
Menurut versi yang lebih baru dari teori entitas, perusahaan berbisnis untuk dirinya sendiri. Pembayaran untuk penggunaan uang adalah biaya karena kedua kreditur dan pemegang saham dianggap pihak eksternal. Oleh karena itu, beban bunga dan dividen serta pajak penghasilan adalah biaya bisnis. Mereka mengurangi jumlah ekuitas yang dimiliki entitas.
Tidak ada pajak berganda di bawah teori entitas karena perusahaan merupakan entitas yang terpisah dari pemegang saham. Oleh karena itu, dibenarkan, setiap entitas harus membayar pajak penghasilan atas penghasilan sendiri. Pengikut dari penafsiran baru dari teori entitas berpendapat bahwa dividen saham juga harus dikenakan pajak kepada penerima karena dividen saham berasal dari saldo laba yang termasuk ke dalam entitas, bukan pemegang saham. Para pemegang saham yang menerima sesuatu dari entitas yang mereka tidak memiliki sebelumnya. Dividen saham dikenakan pajak di bawah sistem perpajakan di Australia, tetapi bantuan di bawah imputasi dividen berlaku. Ini memungkinkan potongan pajak atas dividen secara jujur.

4.       Pengaruh pada Praktek
Dalam prakteknya tidak konsisten dalam mengikuti implikasi baik dari teori kepemilikan atau entitas. Pengaruh dari masing-masing teori ada berdampingan. Teori akuntansi konvensional didasarkan pada konsep entitas, namun pandangan kepemilikan tampaknya memiliki dampak yang lebih besar pada prosedur ini. Sebagai contoh, berdasarkan pada konsep kepemilikan, beban bunga dianggap beban dan dividen distribusi pendapatan.
Untuk akuntansi biaya saat ini, jika pandangan entitas diikuti secara ketat, perubahan nilai kewajiban tidak akan dianggap sebagai keuntungan/kerugian pemegang saham, hanya perubahan dalam beban aset. Hal ini karena kewajiban ekuitas, seperti memberikan kontribusi modal harus diabaikan karena perubahan nilai tidak mempengaruhi arus kas perusahaan. Di tempat pertama, sebuah aplikasi yang ketat dari teori entitas akan menyiratkan pandangan modal fisik di mana tidak ada keuntungan perusahaan induk yang akan diakui.
Teori entitas telah berdampak pada beberapa prosedur yang masih ada. Misalnya, gaji kepada karyawan perusahaan yang memiliki saham dianggap beban. Dalam laporan keuangan konsolidasi, pendekatan teori entitas dapat digunakan di mana perspektif dari entitas konsolidasi diambil dan kepentingan ekuitas dari luar tidak dikecualikan dari pendapatan, beban atau asset. Menggunakan perspektif entitas, kepentingan luar ekuitas diperlakukan tidak berbeda dari kepentingan perusahaan induk pada anak perusahaan. Dalam konteks akuntansi manajemen, penggunaan laba dan pusat biaya untuk keperluan internal didasarkan pada konsep entitas.
Pandangan entitas yang dibahas ini tertanam kuat dalam praktek. Laporan keuangan harian pada operasi perusahaan umumnya didasarkan pada pandangan entitas.

5.       Konsep Modal Fisik
Pandangan entitas menganggap aset entitas sebagai milik dari entitas sendiri dan menganggap dana pemilik itu sebagai luar entitas. Keuntungan mungkin diperoleh melalui kegiatan bisnis secara spesifik atau mungkin dari penawaran layanan, termasuk perwalian aset publik. Dari pandangan entitas, persyaratan utama adalah untuk menjaga kemampuan entitas dalam melaksanakan fungsi secara bertanggung jawab dan oleh karena itu berkaitan dengan mempertahankan kapasitas operasi fisik perusahaan. Hal ini juga dikenal sebagai pandangan 'modal fisik' yang berfokus pada perusahaan dalam menghasilkan barang dan jasa. Bagi mereka yang percaya pada konsep pemeliharaan modal fisik, kemampuan utama ‘well-offness’ untuk mencapai produksi yang sama pada akhir periode seperti di awal. Dalam konsep ini, pemeliharaan modal melibatkan upaya mempertahankan kapasitas operasi perusahaan untuk mengganti aset perusahaan pada awal periode. Penghasilan diperoleh hanya setelah perusahaan mampu untuk mengganti aset di awal periode.
Menurut Godfrey et al (2000:97), “Pendukung pandangan ini setuju bahwa biaya yang akan diganti adalah biaya aset saat ini dengan kapasitas produktif yang sama seperti aset saat ini. Nilai relevan adalah biaya saat ini atau biaya pengganti karena idenya adalah untuk mempertahankan (atau mengganti) kapasitas produktif yang sama seperti yang diberikan oleh aset saat ini”.
Di Australia, SAP 1 (dalam Godfrey et al, 2000:97) mendefinisikan pemeliharaan modal dalam hal 'kapasitas operasi', yang konsisten dengan pandangan modal fisik (atau 'entitas'). Singkatnya, dalam pandangan entitas, kapasitas fisik entitas untuk memberikan barang dan jasa ditentukan setelah memperhitungkan perubahan harga spesifik dari aset dan kewajiban yang membentuk kemampuan operasi entitas.

6.       Konsep Modal Keuangan Terhadap Konsep Modal Fisik
 Godfrey et al (2000:97) mengungkapkan bahwa :
“Perbedaan utama antara model kepemilikian dan entitas, sehubungan dengan pendapatan, adalah bahwa :
·      Perubahan nilai moneter aset dan kewajiban telah diperhitungkan dalam penentuan pendapatan dengan model kepemilikan.
·      Perubahan nilai moneter aset dan kewajiban dikecualikan dalam model entitas.”

Pendukung pandangan kepemilikan ('modal keuangan'), yang juga percaya pada akuntansi biaya saat ini, perubahan dalam nilai aset dan kewajiban dari keuntungan dan kerugian perusahaan induk.
Para pendukung pandangan entitas ('modal fisik') berpendapat bahwa dengan kenaikan harga barang-barang, perusahaan harus melanjutkan kegiatan bisnis karena hal tersebut bukan merupakan unsur laba tetapi 'penyesuaian pemeliharaan modal' yang ditempatkan langsung di pemilik ekuitas. Jumlah ini adalah yang diperlukan untuk mengganti aset.
Contoh berikut ini menggambarkan dua pendekatan :
Misalkan kita memiliki sebuah perusahaan kecil yang bergerak untuk membeli dan menjual satu karya seni per tahun. Asumsikan bahwa dalam Tahun 1 pemilik membeli karya seni sebesar $ 700 dan menjualnya seharga $ 1000, membuat keuntungan uang tunai $ 300. Selama Tahun 1, biaya penggantian karya seni meningkat menjadi $ 800.
Jika mereka menghitung pendapatan mereka berdasarkan nilai historis, mereka akan menunjukkan keuntungan $ 300 ($ 1000 - $ 700). Jika mereka menarik keuntungan, $ 300 yang tersisa di perusahaan tidak cukup bagi mereka untuk melanjutkan bisnis di Tahun 2. Mereka membutuhkan $ 800 untuk mempertahankan kemampuan mereka untuk membeli satu unit karya seni.
Dua pendekatan di atas digambarkan dalam tabel 5.1 berikut.

Tabel 5.1 Perbandingan Pandangan Kepemilikan dan Entitas
Pandangan Kepemilikan

Pandangan Entitas

Penjualan
Beban Pokok Penjualan
$ 1000
800
Penjualan
Beban Pokok Penjualan
$ 1000
800
Laba Operasional
Keuntungan
200
100
Pendapatan
 200
Pendapatan
$   300
Pemeliharaan modal peny.
$   100

Pendukung modal keuangan (pendukung pandangan kepemilikan) menganggap pendapatan dari bisnis sebagai jumlah yang dapat didistribusikan tanpa mengurangi modal kurang dari jumlah uang yang diinvestasikan pada awal periode sebesar $ 300.
Para pendukung pandangan modal fisik (pendekatan pandangan entitas) melihat penghasilan $200 dan $100 akibat kenaikan biaya sebagai penyesuaian pemeliharaan modal. Penyesuaian ini memungkinkan pemilik untuk mempertahankan posisi 'fisik' yang sama dengan sebelumnya, yang harus mampu membeli dan menjual salah satu karya seni. Dalam pandangan ketiga, jika profit sebesar $ 200 yang ditarik, ada adalah $ 800 tersisa untuk melanjutkan bisnis.

F.      Teori Dana/Arus Kas                                      
William Vatter (dalam Godfrey et al, 2000:98) telah mengusulkan pandangan teori yang terpusat pada 'dana' publik daripada perseorangan. Teori kepemilikan mengambil titik pandang pemilik dan teori entitas mengambil sudut pandang entitas seolah-olah seseorang. Objek Vatter adalah keduanya karena ia percaya bahwa pandangan pribadi mengarah ke interpretasi spesifik dan metode penilaian :
“Kelemahan di basis-basis akuntansi pribadi adalah bahwa isi laporan akuntansi akan cenderung dipengaruhi oleh analogi pribadi, dan isu-isu akan memutuskan untuk tidak dengan mempertimbangkan sifat dari masalah tetapi pada beberapa perpanjangan dari perseorangan ... Titik pandang perseorangan tidak berkontribusi pada objektivitas informasi akuntansi.”

Dana adalah unit operasi, suatu pusat perhatian, dengan tujuan tertentu atau serangkaian kegiatan, yang terdiri dari aset dan ekuitas. Dana tidak dibebani oleh pemikiran personalistis. Ini adalah bebas dari sikap tentang valuasi atau bentuk dan isi laporan keuangan yang masuk ke dalam sebuah teori yang didasarkan pada perseorangan. Persamaan akuntansi untuk dana adalah :
Aset = Pembatasan Aset
Setiap dana ditujukan untuk memenuhi beberapa tujuan, dan layanan yang terkandung dalam aset adalah sarana utama untuk mencapai tujuan itu. Vatter (dalam Godfrey et al, 2000:98) tidak setuju dengan interpretasi biasa ekuitas, tetapi melihat mereka sebagai pembatasan atas aset. Klaim tidak muncul terhadap aset, menurutnya, tetapi terhadap orang. Bahkan pemegang hipotek tidak memiliki klaim atas aset tertentu, namun hanya diberikan prioritas dalam pembayaran dari hasil saat aktiva tersebut dijual di penyitaan. Kewajiban merupakan pembayaran masa depan dan tidak klaim pada aset. Oleh karena itu, pentingnya kewajiban adalah pembatasan yang dibebankan pada dana aset, yang mengalokasikan dari suatu bagian tertentu dari total aktiva untuk pembayaran. Ekuitas residual, atau ‘ekuitas pemilik’, merupakan pembatasan akhir atas aset dan menetapkan kesetaraan aset dan ekuitas. Istilah 'pembatasan aset' menciptakan istilah umum untuk semua organisasi.
Dalam teori dana, neraca dianggap sebagai 'pernyataan investasi' aset dan batasan-batasan yang berlaku untuk aset. Penyusunan informasi dan metode penilaian akan bervariasi tergantung pada tujuan digunakannya neraca. Sebagai contoh, sebuah neraca untuk tujuan kredit akan berbeda dari yang disajikan kepada pemegang saham.
Pendapatan merupakan kenaikan aset ke dana yang benar-benar bebas dari pembatasan ekuitas selain pembatasan akhir dikenakan oleh ekuitas residual. Transaksi lain dapat meningkatkan total aset, tapi selalu ada pembatasan yang dibuat bersamaan. Misalnya, penjualan obligasi menghasilkan aset baru, tetapi juga menghasilkan pembatasan pada total aset karena pembayaran masa depan pokok dan bunga. Penerimaan hadiah atau warisan adalah pendapatan. Namun, jika dibatasi untuk digunakan sebagai investasi di mana  harus dipertahankan tanpa batas waktu, maka bukan pendapatan. Bunga atau dividen atas investasi, bagaimanapun, tidak dibatasi dan karena itu hasil untuk dana tersebut.
Beban mewakili rilis layanan untuk tujuan yang ditentukan dalam tujuan dana. Definisi ini mencakup konsep 'biaya produksi pendapatan', tetapi dimaksudkan untuk menjadi lebih luas dan berlaku bagi organisasi nirlaba juga.
Vatter (dalam Godfrey et al, 2000:99) memiliki sedikit kepercayaan pada konsep pendapatan. Dia melihat banyak masalah dalam penentuan dan percaya bahwa akuntan telah lebih ditekankan pada pendapatan. Penghasilan tidak dapat memenuhi semua tuntutan permitaan dan tujuan umum penghasilan terbatas dalam kegunaannya.  Akun Laba dan Rugi justru berakhir dengan angka bottom-line, Vatter mengusulkan sebuah pernyataan di mana informasi dilaporkan dengan cara pengguna, jika mereka ingin, mereka bisa menghitung angka pendapatan untuk tujuan mereka sendiri. Dia berpendapat bahwa harus fokus pada aliran dana ketimbang pendapatan.
Teori Dana menyediakan kerangka acuan bagi pemerintah dan organisasi nirlaba. Vatter (dalam Godfrey et al, 2000:99) bermaksud untuk dapat menerapkan akuntansi dana pada bisnis juga, tetapi yang dapat diterima di sektor itu sangat terbatas. Namun, konsep luas dana berkontribusi untuk kerangka teoretis yang mendasari pengenalan laporan arus kas, yang saat ini merupakan bagian integral dari laporan keuangan entitas di banyak entitas.
Seiring waktu, konsep dana digabungkan ke dalam persyaratan peraturan yang telah menyempit. Di Australia, beberapa konsep dana diperdebatkan: semua sumber daya keuangan, modal kerja dan kas atau setara kas. Konsep 'sumber daya keuangan' adalah yang paling sejalan dengan teori dana Vatter. Sebuah laporan dana disusun dengan menggunakan konsep dana menunjukkan bagaimana dana yang diterapkan untuk menghasilkan dana alternatif. Ini umumnya memiliki dua komponen: Sumber Dana dan Penggunaan Dana. Sumber dana menunjukkan darimana dana didapatkan, misalnya dari pinjaman meningkat, operasi, penerbitan saham, atau penjualan aset. Penggunaan dana menunjukkan bagaimana aset tersebut digunakan, misalnya untuk membayar utang, dividen, atau untuk membeli aset. Sumber dana setara dengan penggunaan dana sejak setiap penggunaan dana memiliki sumber. Bentuk laporan dana, bersama dengan akun Laba Rugi, memberikan hubungan antara neraca. Namun, konsep sumber daya keuangan dana itu dianggap menghasilkan laporan dana yang tidak memberikan informasi yang berguna bagi pengguna laporan keuangan internal dan eksternal.
Studi yang dilakukan oleh Bowen, Burgstahler dan Daley (1987), Wilson (1986), dan Currie (1986) (dalam Godfrey et al, 2000:101) dengan menggunakan berbagai metode dan pengaturan secara konsisten menemukan bahwa :
·      Arus kas kurang berkorelasi dengan laba yang dilaporkan daripada dana dari operasi.
·      Arus kas lebih baik memprediksikan arus kas yang sebenarnya daripada yang melaporkan laba atau dana dari operasi.
Bukti empiris tersebut menunjukkan bahwa konsep dana yang paling tepat adalah konsep kas.

G.        Teori Commander
Goldbert (dalam Godfrey et al, 2000:102) berpendapat bahwa baik teori kepemilikan dan teori entitas didasarkan pada kepemilikan, yang merupakan konsep yang sulit untuk didefinisikan dan dianalisis. Alih-alih kepemilikan, ia percaya harus fokus pada kontrol ekonomi yang efektif dari sumber daya. Kita cenderung pada personalisasi entitas, tetapi kita tidak boleh lupa bahwa manusia benar-benar melakukan kegiatan atas nama entitas. Lebih tepatnya, orang melakukan kegiatan atas nama orang lain, dan keputusan yang dibuat oleh individu tertentu atau kelompok individu. Kita harus mengarahkan perhatian kita pada fungsi kontrol dan ini hanya bisa dilakukan oleh orang-orang. Dalam sebuah perusahaan besar, pemegang saham adalah bagian pemilik perusahaan, tapi dia tidak menguasai sumber daya perusahaan. Dia telah memerintah, bagaimanapun, atas sumber daya sendiri dan karena itu dia adalah komandan juga. Komando atas sumber daya perusahaan hirarkinya ada di tangan komandan. Setiap manajer memiliki kontrol lebih atau kurang terbatas atas beberapa sumber daya, dengan satu atau beberapa dari mereka memiliki perintah umum atas semua sumber daya. Goldberg melihatnya sebagai fungsi akuntansi yang dilakukan untuk dan atas nama komandan. Laporan keuangan disusun oleh komandan dan untuk komandan. Catatan akuntansi disimpan, laporan keuangan disusun, dan laporan dianalisa oleh orang-orang atas nama rakyat untuk kepentingan rakyat. Prosedur akuntansi dilakukan dari sudut pandang komandan atas perusahaan.
Neraca dipandang sebagai pernyataan dari pelayanan bukan kepemilikan; itu adalah pernyataan akuntabilitas. Ini adalah laporan yang menunjukan sumber daya yang dipercayakan kepada pimpinan bahwa ia telah mengontrol, tetapi ia tidak sendiri. Sumber daya yang ditangani oleh orang-orang, yaitu kepala eksekutif dan timnya, mereka disediakan oleh orang-orang, yaitu kreditur dan pemegang saham. Laporan laba rugi adalah penjelasan dari hasil kegiatan-kegiatan dalam periode tertentu. Teori Commander tidak memiliki efek langsung pada praktek akuntansi.
Namun, karena implikasi dari teori-teori baik kepemilikan dan entitas hidup berdampingan dalam praktek saat ini, yang pada pandangan pertama tampaknya bertentangan dengan kontrol ekonomi, yang ditekankan oleh teori commander, bisa menjadi dasar untuk mensintesis dan rasionalisasi penggunaan simultan prosedur terkait dengan teori kepemilikan dan entitas.

H.        Teori Investor
Berdasarkan tujuan akuntansi memberikan informasi kepada pemasok modal, Staubus (dalam Godfrey et al, 2000:104) berpendapat bahwa fungsi akuntansi dan laporan keuangan harus mengambil sudut pandang investor (pemegang saham dan kreditur). Persamaan akuntansi dalam teori ini adalah :
                                       Aset = ekuitas + ekuitas khusus Residual
Ekuitas khusus adalah kewajiban dan saham preferen. Dalam kebanyakan kasus, untuk  perusahaan, ekuitas sisa setara dengan ekuitas saham biasa. Hanya dalam hal ekuitas saham biasa maka saham preferen dihapuskan. Ekuitas menjadi ekuitas sisa. Persamaan akuntansi ini mengungkapkan ketergantungan ekuitas sisa pada nilai-nilai aset dan ekuitas tertentu. Informasi bagi investor untuk memprediksi penerimaan kas masa depan sebagai akibat dari hubungan dengan perusahaan tertentu. Staubus (dalam Godfrey et al, 2000:104) menyatakan bahwa penerimaan kas masa depan investor bergantung pada (1) kapasitas moneter perusahaan mengucurkan uang tunai, (2) kesediaan manajemen untuk membayar investor, dan (3) prioritas hukum klaim investor. Informasi pada faktor ketiga dapat diperoleh oleh investor di luar laporan keuangan. Informasi tentang faktor kedua dapat diturunkan secara tidak langsung dengan pengetahuan tentang kebutuhan kas perusahaan untuk penggantian atau perluasan, pensiun, utang, dan sebagainya. Laporan keuangan dapat membantu investor memastikan kesediaan perusahaan untuk mencairkan uang tunai untuk mereka. Faktor pertama berhubungan dengan kepemilikan uang tunai perusahaan pada saat investor mengharapkan harus dibayar. Laporan keuangan dapat memberikan dasar dalam memprediksi jumlah kas masa depan. Teori investor menekankan kebutuhan pengguna eksternal, khususnya, pemegang saham. Meskipun teori kepemilikan juga termasuk pemegang saham, mereka dipandang sebagai pemilik yang memiliki kekuatan lebih dari yang benar untuk perusahaan. Teori ini melihat pemegang saham sebagai investor dengan sedikit kekuasaan untuk menentukan apa yang terjadi di perusahaan, dan karena itu, harus bergantung pada laporan keuangan. Karena fokus investor pada kebutuhan akan informasi tentang arus kas. Pengaruh sudut pandang ini terlihat dalam pernyataan konsep no.1 dari FASB dimana kebutuhan informasi investor untuk memprediksi arus kas masa depan, diakui secara eksplisit.

I.              Teori Perusahaan
Mengambil isyarat dari tulisan Peter Drucker, yang mengamati bahwa perusahaan besar adalah suatu lembaga dengan tanggung jawab sosial, Suojanen (dalam Godfrey et al, 2000:105) merumuskan teori perusahaan. Perusahaan dipandang sebagai lembaga sosial di mana keputusan yang dibuat mempengaruhi beberapa pihak yang berkepentingan. Pihak tersebut adalah pemegang saham, karyawan, kreditor, pelanggan, berbagai lembaga pemerintah, dan masyarakat. Konsep perusahaan lebih luas daripada entitas, karena melihat perusahaan memiliki peran dalam masyarakat, sedangkan teori entitas memandang perusahaan sebagai sebuah badan yang berusaha untuk memperoleh keuntungan. Suojanen berpendapat bahwa manajemen saat ini tidak menganggap dirinya hanya sebagai wakil dari pemegang saham, tetapi sebagai pelindung perusahaan, bertanggung jawab untuk kelangsungan hidup dan pertumbuhan perusahaan. Dengan demikian, manajer melakukan fungsi meditatif diantara berbagai pihak yang berkepentingan. Meskipun pemegang saham memiliki hak hukum sebagai pemilik, dari sudut pandang perusahaan hak-hak mereka merupakan anak perusahaan untuk organisasi dan kelangsungan hidupnya. Mereka yang menerima penghasilan dari kontrak mereka dengan perusahaan, yaitu, pemegang saham, kreditur, karyawan dan pemerintah, yang memiliki saham penting dalam kesejahteraan perusahaan, dan dengan demikian perusahaan memiliki tanggung jawab terhadap mereka, bukan hanya pemegang saham. Tanggung jawab ini secara langsung dikaitkan dengan fungsi perusahaan dengan memanfaatkan sumber daya moneter, manusia,dan material dalam produksi dan proses distribusi, serta bermanfaat terhadap pihak yang menyediakan sumber daya.

1.         Nilai Tambah Penghasilan
Sebagai lembaga sosial, perusahaan besar harus dievaluasi dari segi tanggung jawabnya, seperti yang disebutkan sebelumnya, yang berhubungan dengan output, karena ini adalah kontribusinya kepada masyarakat. Suojanen (dalam Godfrey et al, 2000:105) percaya bahwa pendekatan nilai tambah memberikan kontribusi terhadap penghasilan.
Nilai tambah adalah suatu ukuran kinerja, ukuran nilai atau kekayaan yang diciptakan oleh perusahaan pada suatu periode tertentu. Cara lain untuk melihat itu adalah untuk mengatakan bahwa mengukur kinerja peserta dalam entitas; karyawan, penyedia dana modal (pemegang saham dan kreditur), dan pemerintah yang secara kooperatif berupaya untuk menciptakan kekayaan tambahan. Pendapatan dalam akuntansi tradisional adalah ukuran kekayaan diciptakan untuk kepentingan pemegang saham. Hal ini merupakan hasil "bottom line" yang diperoleh para pemegang saham. Pendekatan nilai tambah memandang pendapatan sebagai hasil dari upaya kerja sama dari sejumlah peserta. Ekonom memandang nilai tambah terutama dalam hal penentuan pendapatan nasional, dan karena itu, akuntan melihatnya dengan cara yang berbeda. Misalnya, ekonom akan mulai dengan total output pada harga penjualan, sedangkan akuntan paling suka menggunakan angka penjualan, karena ini merupakan hal dimana pelanggan bersedia membayar untuk output perusahaan. Tidak ada prinsip-prinsip yang berlaku umum untuk pernyataan nilai tambah, oleh karena itu, ada perbedaan. Nilai tambah harus mewakili jumlah kekayaan yang diciptakan oleh entitas selama periode yang diberikan. Tetapi nilai penjualan tidak dibuat sepenuhnya oleh peserta dari perusahaan, karena sebagian sudah diproduksi oleh perusahaan lain dan ditransfer ke perusahaan. Oleh karena itu, jumlah barang dan jasa yang dibeli dari perusahaan lain, dan digunakan, dipotong untuk mencapai nilai tambah (value-added ). Salah satu isu kontroversial adalah apakah pengurangan ini harus mencakup beban penyusutan. Banyak yang percaya bahwa itu harus dikeluarkan, karena jumlahnya yang diperkirakan dan pemasukannya. Oleh karena itu akan mengurangi objektivitas dan keyakinan dalam gambaran nilai tambah. Jika penyusutan dikecualikan, maka akan ditambahkan di bawah judul distribusi ke perusahaan untuk penggantian dan ekspansi. Kebanyakan perusahaan di Inggris mengecualikan depresiasi dari bahan, perlengkapan, dan jasa yang digunakan. Ini adalah pendekatan "kotor", mirip dengan Produk Nasional Bruto, sebagai lawan pendekatan "bersih", yang mirip dengan Laba Bersih nasional. Contohnya meliputi depresiasi dalam pengurangan untuk sejumlah alasan. Salah satunya adalah bahwa pengecualian yang memberikan kesan bahwa nilai dibuat tanpa manfaat dari pabrik dan peralatan yang dibeli dari perusahaan lain dan oleh karena itu, agar konsisten dengan gagasan nilai yang diciptakan hanya oleh perusahaan, biaya bagian yang digunakan harus dikurangi. Mengurangkan depresiasi dan barang lain dan jasa yang dibeli dari perusahaan lain, dan digunakan selama periode tersebut, konsisten dengan prinsip akrual dan pencocokan. Meskipun penyertaan penyusutan dalam pengurangan dari nilai penjualan tidak mengurangi objektivitas angka nilai tambah, tanpa penyusutan tersebut dapat menyesatkan kesimpulan yang dibuat.
Nilai tambah dibagi antara penyedia dana modal, karyawan, pemerintah, dan perusahaan itu sendiri. Perusahaan menginvestasikan kembali semua penghasilan yang dipertahankan untuk tujuan kelangsungan hidup dan pertumbuhan perusahaan, dan dengan demikian bermanfaat bagi semua pihak. Pernyataan nilai tambah menunjukkan aliran barang yang dijual, kontribusi perusahaan kepada masyarakat, diimbangi dengan aliran pendapatan dalam arah yang berlawanan ke berbagai penerima. Nilai penjualan perusahaan adalah pendapatan ke sejumlah pihak di masyarakat.

2.         Implikasi
Teori perusahaan adalah pelopor dari konsep akuntansi sosial, dimana laporan laba rugi sosial adalah turunannya. Sudut pandangnya adalah dari kelompok peserta yang memperoleh pendapatan melalui usaha gabungan mereka di perusahaan. Sudut pandang ini berfokus pada kebutuhan bagi mereka peserta untuk bekerja sama jika perusahaan ingin bertahan dan terus menciptakan penghasilan bagi mereka.













BAB III
PENUTUP

A.           Simpulan
Konsep akuntansi saat ini telah dibangun oleh berbagai perspektif yang berkembang dan mendasari perkembangan akuntansi itu sendiri. Menurut teori kepemilikan Littleton, Kepemilikan adalah "substansi" dari sistem pencatatan berpasangan. Lain halnya dengan teori kepemilikan, terdapat pula teori entitas. Teori ini dimulai dengan fakta bahwa korporasi adalah entitas yang terpisah dengan identitas sendiri. Teori entitas dirumuskan dalam rangka menanggapi kekurangan dari pandangan eksklusif tentang perusahaan. Teori dana, William Vatter, telah mengusulkan pandangan teoritis yang berfokus pada sebuah "dana" pribadi daripada kepemilikan. Teori eksklusif ini mengambil sudut pandang pemilik, dan teori entitas mengambil sudut pandang entitas. Vatter percaya bahwa pandangan pribadi mengarah ke interpretasi yang spesifik dan metode penilaian yang baik. Goldbert melalui teori commander berpendapat bahwa baik kepemilikan dan teori entitas didasarkan kepemilikan, yang merupakan konsep yang sulit untuk didefinisikan dan dianalisis. Teori investor dibangun berdasarkan tujuan akuntansi memberikan informasi kepada pemasok modal, Staubus berpendapat bahwa fungsi akuntansi dan laporan keuangan harus mengambil sudut pandang investor. Sedangkan Teori perusahaan/enterprise menyatakan bahwa konsep perusahaan lebih luas daripada entitas, karena melihat perusahaan memiliki peran dalam masyarakat, sedangkan teori entitas memandang perusahaan sebagai sebuah badan yang berusaha untuk memperoleh keuntungan.


CURRENT COST ACCOUNTING



A.    Dasar Pemikiran Current Cost Accounting
Pada tahun 1961, Edwards dan Bell mengusulkan sistem Current Cost Accounting atau Akuntansi Biaya Sekarang dalam karya klasik mereka, usulan teori dan pengukuran pendapatan bisnis mereka ini telah menciptakan banyak perdebatan. Mereka yang pertama menyajikan  Current Cost Accounting secara sistematis. Sebelum membahas alasan Current Cost Accounting digunakan, kita perlu mempertimbangkan jenis keputusan para manajer dalam menjalankan bisnis. Asumsi utama manajer perusahaan ingin tahu bagaimana mereka harus mengalokasikan sumber daya perusahaan dan memaksimalkan profit atau laba perusahaan.
Edwards dan Bell menyatakan masalah mendasar ini dalam  3 pertanyaan, yaitu :
1.      Berapa jumlah asset yang harus harus dipertahankan/dipegang pada saat-saat waktu tertentu? Ini merupakan  masalah ekspansi.
2.      Apa bentuk aset yang sesuai? Ini merupakan masalah komposisi.
3.      Bagaimana aset-aset tersebut didanai? Ini merupakan masalah keuangan.
Manajer dalam membuat keputusan mengenai tiga pertanyaan di atas mendasarkan pada haarapan di masa yang akan datang. Untuk merumuskan harapan tersebut secara tepat, manajer perlu untuk mengevaluasi kegiatan dan keputusan di masa lampau. Alat yang digunakan dalam evaluasi ini adalah perbandingan data akuntansi untuk sebuah periode yang telah ditentukan dengan harapan-harapan pada periode tersebut. Jika perbandingan tersebut mengungkapkan bahwa harapan-harapan tidak akurat, maka kejadian atau harapan di masa sekarang bisa diubah. Sebagai contoh, jika data akuntansi mengungkapakan bahwa total biaya bahan mentah lebih tinggi daripada yang dianggarkan karena harga bahan mentah lebih tinggi dari yang diharapkan, maka perusahaan perlu mengubah perkiraan harga bahan mentah di masa yang akan datang dan mengubah keputusan penganggaran harga bahan mentahdi masa datang. Agar informasi akuntansi berguna dalam pengambilan keputusan, informasi akuntansi harus mengukur kejadian aktual dari suatu periode seakurat mungkin. Menurut Edwards dan Bell bahwa pergerakan harga dalam suatu periode tertentu adalah kejadian yang penting untuk manajemen.
Walaupun Edwards dan Bell menekankan kebutuhan informasi untuk manajemen, mereka menentang bahwa data-data tersebut juga penting untuk pihak luar seperti pemegang saham dan kreditor. Pemegang saham dan kreditor tertarik dengan evaluasi kinerja dari manajer dan juga perusahaan. Dari teori tersebut informasi akuntansi melayani dua tujuan:
1.      Evaluasi oleh manajer terhadap keputusan masa lalu untuk membuat keputusan yang paling baik di masa datang.
2.      Evaluasi terhadap manajer oleh pemegang saham, kreditor, dan yang lainnya.
Evaluasi baik oleh pihak internal atau eksternal menyediakan alat untuk keberhasilan fungsi ekonomi karena sumber daya akan dialokasikan lebih efisien. Tujuan sampingan dari informasi akuntansi adalah menyediakan dasar yang pantas dan terukur untuk perpajakan.

B.     Konsep Laba Usaha
Berkenaan dengan laba, manajemen sering menghadapi dua keputusan:
-          Memegang keputusan tentang apakah asset dan kewajiban akan ‘ditahan’ atau akan mempergunakannya (misalnya melalui penjualan asset atau pembayaran utang)
-          Operasi keputusan tentang bagaimana menggunakan dan membiayai operasi entitas.
Untuk mengevaluasi baik induk dan operasi keputusan manajer, Edwards dan Bell menawarkan konsep keuntungan yang mereka sebut terdiri dari ‘keuntungan bisnis. Ada dua komponen yaitu laba operasi saat ini dan penghematan biaya realisasi. Laba operasi saat ini adalah kelebihan dari nilai saat ini dari output terjual lebih dari biaya saat input tersebut. Penghematan biaya realisasi adalah peningkatan biaya saat ini asset yang dimiliki oleh perusahaan pada periode berjalan. Mereka mencakup perubahan biaya maupun yang belum direalisasi. Laba usaha adalah dihitung atas dasar nyata – yaitu, unsur ‘fiksi’ karena perubahan tingkat harga pasar dihilangkan. Istilah yang kita gunakan  untuk menghemat biaya realisasi adalah ‘holding gains and losses’, yang dapat direalisasikan atau belum direalisasi.

C.    Holding Gains and Losses
Suatu asumsi yang mendasari CCA adalah pencampuran antara holding gains/losses dan operating gains/losses membingungkan evaluasi akann keputusan manajemen dan menyembunyikan alokasi dari sumber daya ekonomi. CCA memperkenankan pemisahan dari kedua komponen tersebut. Dengan metode konvensional historical cost accounting, gains dicatat hanya ketika aset dilepas. Oleh karena itu penentuan apakah  kegiatan holdings manajemen berhasil atau tidak, hampir tidak mungkin kecuali jika aset diperoleh dan dijual pada periode yang sama. Dengan akuntansi konvensional, ketika membandingkan perusahaan kita mungkin tidak tahu perusahaan mana yang lebih efisien. Contohnya perusahaan A memulai usahanya 10 tahun lebih awal, maka operating profit perusahaan A saat ini lebih besar karena beban penyusutannya lebih kecil daripada perusahaan yang baru mulai usaha tahun ini. Oleh karena itu pemisahan holding gains dan operating profit memberikan penghargaan kepada manajer yang tepat.
Akan tetapi perdebatan mengenai pemisahan current operating profit dan holding gains adalah tidak berarti. Menurut Drake dan Dopuch, Prakash dan Sunder mengaskan bahwa keputusan-keputusan manajer mempengaruhi kedua komponen tersebut, sehingga keduanya tidak bisa berdiri tersendiri. Contohnya adalah ketika aset diperoleh untuk mengurangi beban operasi di masa akan datang.

D.    Mengapa Holding Gains Merupakan Komponen dari Pendapatan
Edwards dan Bell meyakini bahwa holding gains menyajikan “suatu simpanan yang diakibatkan oleh fakta bahwa input diperoleh pada kemajuan penggunaan. Simpanan tersebut diakibatkan oleh kegiatan holding. Tapi mengapa seharusnya kenaikan  current cost  pada suatu aset dianggap sebagai bagian dari profit? Edwards dan Bell tidak menyediakan jawaban atas pertanyaan tersebut, tapi Revsine menyarankan bahwa teori tersebut ke depannya menyajikan suatu alasan sebagai berikut : “The cost saving merupakan komponen pendapatan karena menyajikan suatu opportunity gain, karena perusahaan membeli aset pada saat sebelum harganya berangsur naik.”
Revsine menentang bahwa jenis dari gain mengharuskan sebuah perbandingan di antara kejadian yang terjadi dan kejadian yang akan terjadi. Revsine memberikan penjelasan lebih lengkap mengenai cost saving sebagai berikut: Cost saving  mengukur suatu keuntungan posisi kas perusahaan dihubungkan dengan perusahaan lain pada suatu industri yang menguntungkan untuk menahan aset saat harga cenderung naik. Jadi ketika perusahaan lain membeli suatu aset, perusahan tersebut harus melakukan juga pada harga yang lebih tinggi. Jadi argumentasi tentang opportunity gain menekankan pada perbandingan perusahaan dengan perusahaan lainnya.
Argumen dari Revsine menekankan bahwa current cost profit adalah suatu indikator utama pada arus kas di masa depan. Pembenaran teoretis dari hubungan ini adalah keterkaitan di antara current cost profit dan economic profit. Economic profit diartikan sebagai perbedaan antara nilai sekarang dari net cash flows yang diharapakan oleh perusahaan pada dua titik waktu, tidak termasuk tambahan investasi oleh pemilik atau yang didistribusikan untuk pemilik. Economic profit dapat dibagi menjadi dua komponen yaitu expected profit dan unexpected profit.
Expected profit mengukur arus kas perusahaan dapat menghasilkan pada masa datang yang tak tentu, sedangkan unexpected profit mengukur perubahan arus kas dalam kaitan dengan faktor lingkungan yang tidak bisa diprediksi pada awal periode. Dalam ekonomi persaingan sempurna, current cost profit hampir identik dengan economic profit. Current operating profit pada current cost sama dengan distributable cash flow atau expected profit. Sedangkan holding gains secara langsung berhubungan dengan unexpected profit.
Memasukkan holding gains sebagai komponen dari profit merefleksikan pandangan financial capital. Suatu jumlah pada akhir periode yang merupakan nilai lebih dari jumlah yang diinvestasikan pada awal periode(tidak termasuk tambahan investasi oleh dan untuk pemilik) merupakan profit. Oleh karena itu holding gains merupakan bagian dari profit. Imbal balik investasi adalah jumlah uang yang merupakan nilai lebih dari jumlah yang telah diinvestasikan. Profit menggambarkan pengembalian kas yang diharapkan melebihi investasi kas.

E.     Financial Capital Vs Physical Capital
Berdasarkan sistem akuntansi penilaian pasar (market value), perhitungan profit bergantung terhadap modal (capital). Sehingga profit lebih dikenal sebagai perubahan modal dalam satu periode pelaporan, bukan sebagai alokasi biaya perolehan (historical cost) sebagaimana ditentukan dalam banyak konvensi akuntansi. Dalam current cost accounting terdapat dua pandangan dasar yang berbeda terkait modal awal dan modal akhir yaitu konsep keuangan (financial concept) dan konsep fisik (physical concept). Dari kedua pandangan tersebut tidak ada perbedaan pandangan dalam konsep penilaian fair value yang diakui sebagai harga pembelian pasar sekarang (current market buying prices) atau current costs, tetapi perbedaan terletak pada definisi capital dan bagaimana profit diukur berdasarkan definisi masing-masing.
Dari sudut pandang praktis, perbedaan utama antara financial capital concept dan physical capital concept adalah apakah keuntungan atau kerugian termasuk dalam profit. Menurut pandangan financial capital concept perolehan keuntungan termasuk dalam profit sedangkan menurut physical capital concept tidak termasuk dalam profit. Contoh ilustrasinya sebagai berikut:
Sebuah perusahaan memiliki kas sebesar $1000 dan memulai operasinya pada 1 Januari, perusahaan tersebut melakukan pembelian 100 unit barang untuk diperdagangkan masing-masing senilai $10. Pada 31 Desember, seluruh barang dagangannya laku terjual masing-masing sebesar $18. Pada tanggal ini, current cost telah naik menjadi $12 per unit. Asumsikan profit dibayarkan sebagai dividen diakhir tahun, maka perhitungan profitnya sebagai berikut:

Financial Capital View
Physical Capital View
Sales Revenue (100 x $18)
$1800
$1800
Cost of Sales (100 x $12)
1200
1200
Current Operating Profit
600
600
Holding Gain (100 x $2)
200
0
Profit
$800
$600
Paid as Dividends
$800
$600

Penganut konsep financial capital berpendapat bahwa profit adalah sebesar $800 disebabkan kenaikan setelah perlakuan financial capital seperti terlihat dibawah ini:
Beginning amount of capital                           $1000
Less Purchase of 100 units at $10 each          - 1000
Add Sale of 100 units at $18 each                  +1800
Ending balance of capital                               $1800
Jika sebesar $800 didistribusikan kepada pemegang saham sebagai dividends, maka perusahaan masih memiliki $1000 yang merupaan nilai financial capital awal.
Penganut konsep financial capital berpendapat bahwa sebuah perusahaan menginvestasikan sumber keuangannya dengan harapan akan menciptakan pemasukan kas yang lebih besar. Pengembalian sejumlah sumber keuangan yang diinvestasikan merupakan return of capital. Kelebihan arus kas dari sumber keuangan yang diinvestasikan merupaan return on capital. Oleh karena itu, peningkatan dalam sumber keuangan untuk memelihara kemampuan operasi fisik dan peningkatan dalam sumber keuangan untuk memperluas kemampuan operasi fisik tidak dapat dibedakan.


F.     Dukungan Terhadap Physical Capital
Penganut konsep physical capital berpendapat bahwa modal (capital) adalah unit-unit fisik yang menunjukan kemampuan operasi fisik suatu perusahaan. Dalam hal ini, jika perusahaan memiliki 100 unit barang dagangan diawal; jika capital yang akan dipertahankan, maka seharusnya perusahaan berada dalam posisi untuk membeli 100 unit barang pada akhir periode. Karena harga sudah mengalami kenaikan sebesar $2 per unit, sehingga perusahaan memerlukan $200 lagi pada akhir periode untuk mempertahankan kemampuan operasi awalnya. Oleh karena itu, nilai sebesar $200 bukanlah merupakan keuntungan tetapi penyesuaian atas pemeliharaan capital. Berikut ilustrasi analisisnya:
Profit after maintaining operating capability of 100 units:
Beginning capital                                                                    $1000
Purchase of 100 units (outflow of cash)                                 - 1000
Sale of 100 units (inflow of cash)                                           +1800
Needed at the end to maintain capital (100 units x $2)          - 1200
Profit for January                                                                    $  600
Jika senilai $800 dibayarkan sebagai dividends, maka perusahaan akan memiliki kas sebesar $1000 diakhir periode, yang hanya cukup untuk pembelian 83 unit di bulan Februari. Sehingga capital tidak dapat dipertahankan.
Catatan: Penyertaan keuntungan yang diperoleh sebagai bagian dari profit didasarkan pada dua pendapat:
-          Pengurangan terhadap biaya (efisiensi biaya);
-          Merepresentasikan kenaikan dalam arus kas di masa depan dari aset yang bersangkutan.
Samuelson tidak setuju terhadap kedua pendapat tersebut. Dia berpendapat bahwa perubahan ini (gain yang diperoleh) dalam current cost harus merupakan penyesuaian capital maintenance. Kaitannya dengan efisiensi biaya, dia menjelaskan bahwa pemisahan antara aktivitas induk dan aktivitas operasi tidak sesederhana apa yang diasumsikan oleh Edwards dan Bell. Pendapatan dari Drake and Dopuch dan dari Prakash and Sunder mengatakan bahwa aktivitas induk dan operasi terkadang saling terkait dan mengevaluasinya secara terpisah dapat menyebabkan salah arah. Samuelson menjelaskan bahwa efisiensi biaya adalah keuntungan yang dihasilkan dari pengambilan suatu tindakan yang ditandingkan dengan tindakan yang lain. Tetapi alternatif tindakan yang lain ditiadakan ketika tindakan yang nyata diambil. Ketika aset diperoleh, harga perolehan aset tersebut adalah “biaya tenggelam” yang tidak dapat dihindari dengan tindakan apapun dimasa depan. Satu-satunya alternatif adalah dengan menjualnya atau terus memakainya. Namun, keuntungan tidak didapat dari kedua hal tersebut, tetapi dari aset yang tidak diambil dan yang tidak lagi ada. Samuelson mempertanyakan mengapa efisiensi biaya harus merupakan bagian dari profit pada saat tidak ada realisasi arus kas maupun arus kas yang diharapkan dimasa mendatang tetapi arus kas tetap dilibatkan. Jika hal tersebut dimasukan sebagai bagian dari profit, bagaimana halnya dengan jenis efisiensi biaya yang lain seperti pembelian aset x daripada aset y, atau peminjaman uang dengan bunga rendah pada saat yang lain tinggi.
Memperhatikan pendapat bahwa penyesuaian terjadi diantara perubahan dalam current cost dan nilai (discounted) aset sekarang, asumsinya adalah bahwa perubahan dalam current cost terkait dengan perubahan net realizable value dari aset. Untuk aset tidak lancar, bagaimanapun arus kas individu  tidak dapat diidentifikasi.
Komponen utama dari modal fisik adalah:
1.      Capital Maintenance
Sistem dari current cost didasarkan pada konsep entitas dalam memelihara secara utuh kemampuan sebuah perusahaan untuk menghasilkan sejumlah barang dan jasa yang sama secara berkelanjutan (kemampuan operasi perusahaan).
Jika tidak terjadi perubahan teknologi, pemeliharaan capital memerlukan stok fisik awal aset bersih agar dipertahankan. Hal ini didapatkan dengan memadankan sumber yang digunakan dengan memakai harga pembelian terkini dan memastikan bahwa nilai pembelian secara umum dari item moneter dipertahankan. Dengan menggunakan konsep ini, dana yang cukup dapat dipertahankan oleh perusahaan untuk membiayai seluruh penggantian aset dari beban pemulihan. Informasi ini dapat juga digunakan untuk menghitung harga yang harus dibayar dalam menyediakan pemasukan dan menghitung harga minimum produk perusahaan yang dapat dijual dengan asumsi keberlangsungan perusahaan dan tanpa likuidasi.
Sistem current cost didasarkan pada konsep ekonomi dalam analisis margin dengan pasar factor. Desakan pasar, misalnya perubahan permintaan dan penawaran terus beroperasi untuk mempengaruhi harga di pasar factor. Hasilnya adalah gaji dan variable input production lainnya sama halnya dengan harga pembelian aset tetap secara berkelanjutan berubah. Masih diperdebatkan bahwa perusahaan harus menyesuaikan operasi untuk memanfaatkan perubahan yang berkelanjutan di pasar factor supaya tetap kompetitif dan efisien. Logika ekonomi menyarankan bahwa efisiensi yang optimal dalam operasi ketika sejumlah volume output diproduksi pada biaya pasar yang minimum dari factor input. Misalnya jika variable cost (upah) meningkat, maka lebih banyak diperlukan metode capital-intensive untuk mengurangi labour input dan meminimalisasi biaya. Penggunaan fixed cost, sebagai contoh lainnya, jika pasar harga dari tanah dan bangunan perusahaan meningkat, perusahaan harus menggunakan pabrik lebih sering untuk memproduksi, merentalkannya, atau menjualnya dan operasi berpindah ke tempat yang lebih murah. Harga pembelian terbaru atau harga masuk adalah pengukuran yang relevant terhadap opportunity cost dalam pasar factor dan harus digunakan dalam sistem ini.
2.      Valuation principles
-          Non-monetary item
Item moneter dan non-moneter adalah subjek dari perbedaan efek dan risiko ketika inflasi. Item moneter adalah klaim terhadap sejumlah tertentu nilai suatu dollar. Dalam istilah nominal, item moneter tidak berubah selama inflasi harga. Sebaliknya, nilai dari non-monetary item (seperti tanah dan bangunan) akan menyesuaikan tekanan pasar dalam istilah nominal dollar.
Untuk tujuan neraca, aset non-monetary harus dinilai sesuai dengan current cost aset tersebut. Nilai tersebut diperoleh dari:
  • Harga pembelian pasar terbaru; atau
  • Indeks spesifik dimana harga pasar tidak tersedia; atau
  • Jasa potensial item yang identik atau mirip untuk menggantikan atau membedakan aset.
Untuk depresiasi aset, nilai yang baru dikurangi akumulasi depresiasi digunakan untuk memperoleh nilai dari suatu aset.
Ketika aset non-monetary disajikan ulang (biasanya pada tanggal neraca), penyesuaian dibuat terhadap akun current cost reserve pada bagian ekuitas di laporan. Bagaimanapun, ketika terjadi penurunan nilai, terjadi penurunan kemampuan operasi suatu entitas, kemudian penyesuaian bagian debit dibuat langsung pada laporan rugi/laba.
-          Monetary item and Loan capital
Aset moneter ditunjukan dengan nilai pada saat pertama kali dimasukan dalam akun dan merepresentasikan kerugian dalam kemampuan daya beli. Kewajiban moneter dinilai pada saat diharapkan untuk dibayar dan menguntungkan bagi perusahaan jika dipertahankan ketika uang kehilangan kemampuan daya belinya.
Item moneter dibagi kedalam dua komponen yang berbeda. Komponen pertama adalah berdasarkan konsep entitas dan seluruh unsur item moneter yang bukan capital pinjaman. Hal ini merupakan pertukaran antara kreditor dan debitor, kas, prabayar dan pinjaman bank jangka pendek. Keuntungan atau kerugian item moneter harus dihitung secara memadai dengan indeks perubahan current cost dari barang dan jasa. Misalnya, sebuah perusahan bangunan akan menerapkan indek biaya konstruksi dalam item moneter yang membiayai input operasi. Untuk entitas keuangan seperti bank, indeks yang paling relevan adalah indeks harga umum. Ketika penerapan indeks spesifik tidak praktis dan tidak efektif secara biaya, maka penggunaan indeks harga umum dianjurkan.
Sistem operasi current cost didasarkan pada konsep entitas. Seluruh sumber keuangan jangka panjang, seperti pinjaman, obligasi atau saham (yang dipasarkan atau pun tidak), sama halnya dengan kontribusi dan cadangan pemegang saham dianggap mewakili capital base perusahaan. Kreuntungan dan kerugian dalam capital pinjaman dihitung terutama untuk menjangkau pemegang saham yang telah mendapatkan keuntungan dari entitas yang menggunakan capital pinjaman jangka panjang untuk mendanai operasi perusahaanl. Karena pengukuran ini berkaitan dengan pemegang saham – konsep milik – indeks harga umum harus digunakan untuk perhitungannya. Selain itu, ketika perdagangan kreditur dan kewajiban moneter melebihi aset dan persediaan moneter, kelebihan tersebut dapat digunakan untuk mendanai non-monetery assets. Dalam hal ini, kelebihan tersebut harus diperlakukan sebagai capital pinjaman dan keuntungan apapun dari kelebihan ini diperlakukan dengan cara yang sama sebagai capital pinjaman.
-          Non-monetary assets bought and sold on the same market
Saham dan komoditas pasar tertentu seperti emas, perak dan aset lainnya yang dipandang spekulatif atau aset financial dibeli dan dijual dipasar yang sama. Aset ini tidak secara langsung menambah kemampuan operasi entitas. Meskipun apakah dikonsumsi atau digunakan selama proses pembayaran barang dan jasa. Biasanya bertujuan untuk menghasilkan keuntungan atau untuk dijual kembali di capital gain. Dalam hal ini, kemampuan operasi dari entitas ditingkatkan atau dikurangi dengan kemampuan berinvestasi kembali terhadap aset ini. Kemampuan ini tetap tidak berubah dalam suatu periode ketika harga pasar untuk aset tertentu bergerak sejajar dengan inflasi secara umum. Meskipun demikian, jika nilai aset meningkat pada rate yang lebih besar dibandingkan inflasi, maka kemampuan berinvestasi kembali atau kemampuan operasi meningkat. Aset didebet dengan kenaikan harga, penyesuaian inflasi dikredit terhadap current cost reserve dan keuntungan apapun, kelebihan dan diatas inflasi, dikredit terhadap laporan rugi/laba. Jika kerugian yang terjadi maka perlakuannya dibalik.



G.    Kritik Terhadap Physical Capital
Sterling mempertimbangkan bahwa konsep physical capital penuh dengan kelemahan. Dia berpendapat bahwa profit dibawah pandangan physical capital bernilai jika empat kondisi terpenuhi, yaitu:
  • Perusahaan berkelanjutan mengganti unit-unit yang identik;
  • Menghadapi kenaikan biaya yang berkelanjutan;
  • Dibeli dan dijual dipasar yang berbeda;
  • Diinvestasikan secara penuh di unit fisik.
Jika salah satu dari kondisi-kondisi ini tidak terpenuhi, masalah serius dalam pengukuran yang dihadapi. Kondisi masing-masing diperiksa di bawah ini dengan mempertimbangkan situasi sebaliknya.
1.      Different units
Apa yang terjadi ketika sebuah perusahaan membeli berbagai jenis unit fisik dari banyak orang di awal periode? Misalkan sebuah perusahaan dimulai pada 1 Januari dengan $ 1000. Membeli 100 busana T-shirt dengan harga $ 10 masing-masing dan menjualnya pada tanggal 31 Januari sebesar $ 18 masing-masing, pada saat current cost telah meningkat menjadi $ 20 per T-shirt. Pada tanggal 1 Februari, mengisi ulang persediaan dengan 72 blus dengan biaya $ 25 masing-masing, mengalami peningkatan dari $ 20 pada tanggal 1 Januari.
Dua pilihan yang mungkin untuk menentukan pendapatan.
-          Perusahaan benar-benar membeli t-shirt di awal. Oleh karena itu pendapatan harus ditentukan atas dasar itu. Baik awal dan modal akhir harus dalam satuan yang sama fisik yang sebanding: T-shirt, dalam kasus ini.
Laba setelah mempertahankan kemampuan operasional dari 100 T-shirt:
Beginning Capital                                                                                        $  1000
Purchase of T-shirts (outflow of cash)                                                     -  1000
Sale of T-shirts (inflow of cash)                                                                 + 1800
Needed at end to maintain Capital (100 T-shirts x $20)                     -  2000
Loss                                                                                                                    $200
-          Perusahaan benar-benar diganti dengan persediaan blus dan, oleh karena itu. Pendapatan harus ditentukan atas dasar itu. Modal awal dan modal akhir harus dalam satuan yang sama fisik yang sebanding: blus, dalam kasus ini.
Beginning Capital                                                                                        $ 1000
Possible purchase of 50 blouses (50 x $20)                                            - 1000
Actual sale of 100 units (100 x $18)                                                        + 1800
Needed at end to maintain Capital of 50 blouses (50 x $25)              -  1250
Profit                                                                                                                  $550
2.      Decresing Cost
Sterling berpendapat ketika menurunkan biaya, perusahaan mungkin masih menunjukkan keuntungan current cost bahkan jika produk tersebut dijual dengan harga kurang dari harga pembelian. Sebagai contoh, asumsikan bahwa pembelian Perusahaan X 100 unit sebesar $ 100 masing-masing pada tanggal 1 Januari. Pada akhir bulan, harga turun menjadi $ 60. Perusahaan mengurangi harga jual sesuai dengan itu, katakanlah dari $ 160 sampai $ 96 karena pengaruh kompetitif perusahaan lain yang membeli unit dengan harga yang lebih rendah dan menjual produk dengan harga lebih rendah. Asumsikan 100 unit yang dijual pada tanggal 31 Januari fo $ 96 masing-masing.
Sales revenue (100 x $96)                               $ 9600
Current cost of sales (100 x $60)                       6000
Profit                                                               $ 3600
Perusahaan membeli barang dengan harga $ 100 masing-masing dan menjualnya sebesar $ 96 masing-masing. Ini adalah kurang dari harga pembelian, tetapi masih menunjukkan keuntungan sebesar $ 3600.



Perusahaan ini dimulai dengan modal $ 10.000, yang terdiri dari 100 unit dengan harga $ 100 per orang. Namun, karena penurunan biaya, penyesuaian pemeliharaan modal menyebabkan modal menurun sebesar $ 4000 (100 x $ 40), meninggalkan saldo akhir $ 6000. Jika seluruh keuntungan dibagikan sebagai dividen, Physical capital telah dipertahankan, karena perusahaan mulai dengan 100 unit dan berakhir dengan kemampuan pembelian 100 unit dengan $ 6000. Dari sudut pandang fisik, hal ini tidak berlaku untuk pemilik. Jika harga tetap konstan, keuntungan berikut akan telah dibuat:
Revenue (100 x $160)                                     $ 16000
Cost of sales (100 x $100)                                 10000
Profit                                                               $   6000
Bukan $ 6000, keuntungan yang sebenarnya adalah $ 3600, karena penurunan biaya. Penurunan biaya dengan penurunan bersamaan dalam harga jual telah menyebabkan pemilik menderita kerugian sebesar $ 2400 di dividen yang mereka bisa terima. Situasi ini, kemungkinan perusahaan adalah baik off di akhir periode seperti di awal tapi pemilik lebih buruk karena penurunan biaya, ini tidak benar, menurut Sterling.
3.      Same Markets
Bagaimana jika perusahaan membeli dan menjual di pasar yang sama, seperti reksa dana? Misalnya, sebuah perusahaan dimulai pada 1 Januari dengan $ 1000 dengan membeli 100 saham Perusahaan X sebesar $ 10 masing-masing. Ini menjual saham pada tanggal 31 Januari sebesar $ 18 masing-masing. Keuntungan akan menjadi:
Revenue ( 100 x $18)                                     $ 1800
Current cost of sales (100 x $18)                       1800
Profit                                                                       0
Perusahaan ini dimulai dengan $ 1000, memberikan kemampuan untuk membeli 100 saham Perusahaan X, dan berakhir dengan $ 1800, memberikan kemampuan untuk membeli 100 saham Perusahaan X. Hal ini juga-off pada akhir seperti pada awal.
Sekarang bandingkan perusahaan dengan salah satu perusahaan yang memiliki $ 1000 pada tanggal 1 Januari, tapi membeli 100 saham Perusahaan Y di $ 10 masing-masing, dan menjual saham pada tanggal 31 Januari untuk $ 9,00 per saham. Keuntungan akan menjadi:
Revenue (100 x $9)                                         $ 900
Current cost of sales (100 x $9)                         900
Profit                                                                     0
Profit adalah nol untuk perusahaan ini seperti awal pertama, karena current cost adalah sama dengan harga jual. Dengan demikian, kedua perusahaan melaporkan keuntungan nol, meskipun fakta bahwa salah satu mengalami kenaikan harga dan penurunan harga lainnya.
Setiap perusahaan yang membeli dan menjual di pasar yang sama akan melaporkan keuntungan nol, terlepas dari perubahan harga. Sterling menyimpulkan bahwa situasi ini tidak logis. Dia menyatakan, “Tidak ada gunanya dalam mengukur keuntungan jika ada yang tahu sebelumnya besarnya akan selalu menjadi nol ‘.
4.      Partial Investment
Pengurangan current cost masu
kan dari pendapatan yang dikatakan untuk memberikan pembagian laba dan mempertahankan Physical capital. Tapi ini benar hanya jika perusahaan sepenuhnya diinvestasikan dalam unit fisik. Jika perusahaan tidak sepenuhnya diinvestasikan, masalah timbul.
Asumsikan bahwa perusahaan dimulai pada 1 Januari dengan $ 1000 dengan membeli 80 unit persediaan di $ 10 masing-masing, meninggalkan saldo kas sebesar $ 200. Perusahaan menjual unit/barang pada tanggal 31 Januari sebesar $ 16 masing-masing ketika current cost adalah $ 12,50 per unit. Laba akan menjadi:
Revenue ( 80 x $16)                                        $ 1280
Current cost of sales (80 x $12.50)                   1000
Profit                                                               $  280
Jika keuntungan sebesar $ 280 itu akan dibagikan kepada pemilik, phisical capital tidak akan dipertahankan. Pada akhir periode, perusahaan akan memiliki $ 1200 ($ 200 cash balance + $ 1280 laba $ 280 dividen), yang hanya akan membeli 96 unit (= $ 1200 / $ 12,50) dibandingkan dengan 100 unit perusahaan bisa dibeli dengan $ 1000 di awal periode. Masalahnya adalah saldo kas $ 200. Ini bisa membeli 20 unit pada awal periode, tetapi hanya 16 unit di akhir. Dengan demikian, ada kerugian dari holding cash dan tidak membeli 4 unit atau $ 50 (4 x $ 12,50). Jika Physical capital harus dipertahankan, maka akan diperlukan untuk memasukkan kerugian sebesar $ 50 pada akun Laba Rugi, tapi ini tidak diusulkan oleh pendukung Physical capital.
Jika perusahaan menjual lebih dari satu produk, masalahnya menjadi lebih rumit. Asumsikan bahwa perusahaan memiliki saldo kas $ 200 dan menjual produk X dan Y. Asumsikan biaya X meningkat dari $ 10 sampai $ 12,50, mengakibatkan hilangnya 4 unit atau $ 50. Biaya Y menurun dari $ 10 sampai $ 8,00, menghasilkan keuntungan dari 5 unit atau $ 40. Harus kehilangan $ 50 dimasukkan dalam pendapatan untuk tidak membeli X pada awal periode, atau harus keuntungan $ 40 akan ditambahkan untuk tidak membeli Y, atau keduanya harus dimasukkan? Jawabannya tidak jelas.

H.    Kritik Terhadap Current Cost Accounting
Terdapat dua kelompok yang berbeda yang mengkritik current cost accounting, yaitu mereka pendukung historical cost dan mereka pendukung exit price.
1.      Pendukung Historical Cost
Pendukung historical cost accounting menolak current cost accounting karena melanggar prinsip realisasi traditional.  Mereka khawatir, jika perusahaan bermaksud untuk menggunakan aset,  daripada  menjualnya, perubahan harga pasar tidak relevan. Aktiva lancar tidak lebih berharga untuk sebuah perusahaan hanya karena biaya saat ini telah meningkat. Nilainya terletak pada potensi pelayanan, bukan dalam (ditukar) nilai pasarnya. Mungkin dapat dikatakan bahwa akuntansi biaya saat ini mengantisipasi laba usaha. Namun, yang terburuk mungkin terbukti benar, yaitu bahwa laba yang diharapkan tidak akan terwujud atau bahwa kenaikan harga hanya sinyal peningkatan pendapatan di masa depan industri lain.
Masalah lain yang terkait adalah subjektivitas dalam menentukan jumlah kenaikan biaya. Jika tidak ada pasar barang bekas yang dapat diandalkan, maka dasar menentukan biaya saat suatu aktiva tetap yang digunakan oleh perusahaan harus aset baru yang akan menggantikan yang lama. Ini bukanlah tugas yang mudah untuk menghitung jumlah keuntungan atau kerugian usaha.
Sebuah editorial di Business Week menyimpulkan masalah di ats sebagai berikut : “Untuk menghitung laba berdasarkan biaya penggantian, akuntan tidak hanya lebih membebankan biaya penyusutan, mereka juga harus menyesuaikan perbedaan dalam hasil dan biaya produksi. Ketika mereka telah melakukannya, mereka berakhir mimpi aneh dunia di mana perusahaan mengurangi tabungan mereka tidak menyadari dari biaya mereka tidak dikenakan untuk memperoleh pendapatan yang tidak mereka buat.”
2.      Pendukung Exit Price
Pendukung exit price accounting mengamati sejumlah kelemahan dalam current cost accounting. Pertama, mereka berpendapat bahwa istilah “biaya” menyiratkan biaya kesempatan atau pengorbanan alternatif terbaik berikutnya. Dalam hampir semua kasus, pengorbanan saat ini yang dihadapi oleh perusahaan adalah untuk menjual aset daripada menggunakannya, tetapi tidak untuk membelinya karena perusahaan telah memiliki itu. Oleh karena itu, current cost, harga untuk membeli barang(aset), bukan jumlah yang relevan. Ini adalah exit price  atau nilai realisasi yang merupakan ekspresi logis dari biaya opprtunity.
Masalah Alokasi yang dikemukakan oleh Thomas terus menjadi masalah. Alih-alih mengalokasikan biaya historis, alokasi adalah biaya saat ini. Tapi tetap sewenang-wenang dan kurang menjadi bagian dari dunia nyata. Poin tambahan pada masalah ini adalah kebutuhan untuk jaminan penyusutan. Apakah jaminan penyusutan dibebankan pada laporan laba rugi atau ke akun modal akan membuat perbedaan dalam jumlah laba yang dilaporkan.
Lemke berpendapat bahwa asset teknologi ditingkatkan dengan teknologi cenderung menggantikan  aset yang ada, sehingga laba operasional saat ini, berdasarkan modus produksi yang ada, akan menjadi prediktor buruk dari keuntungan masa depan. Ketika teknologi berubah, investor akan disesatkan oleh laba usaha saat ini sebagai dasar untuk memprediksi arus kas masa depan. Dalam banyak kasus, laporan keuangan akan menggambarkan harga pembelian saat ini dan beban penyusutan aktiva yang usang dan perusahaan yang tidak berniat untuk membelinya. Laba akan menggambarkan fasilitas yang ada yang tidak diharapkan akan dilanjutkan.
Pendukung exit price accounting bersikeras bahwa akuntansi biaya saat ini memerlukan masalah matematika atas penambahan karena model yang direkomendasikan untuk praktek melibatkan berbagai metode pengukuran. Chamber menjelaskan masalah-masalah sebagai berikut:
“Jumlah aset harus dari jenis yang sama dengan jumlah kewajiban. Mereka harus jumlah uang atau setara asset yang bukan uang pada tanggal neraca. Uangnya setara dengan asset yang bukan uang adalah nilai-nilai kas bersih dari aset tersebut pada tanggal neraca.”
Untuk alasan yang sama,Chamber berpendapat melawan penggunaan indeks harga khusus. Sebuah indeks harga hanya harga rata-rata. Hal ini tidak mungkin, kecuali secara kebetulan bahwa sebuah perusahaan tertentu dipengaruhi oleh perubahan harga dengan cara yang sama seperti setiap perusahaan lain. Dan jika aset tidak bisa lagi dibeli, ini tidak masuk akal untuk menghitung biaya yang diindeks sebagai harga jika akan telah bergerak ke arah yang sama dan pada tingkat yang sama beberapa seri nomor indeks.
Akhirnya, Chamber mempertahankan  gagasan pada pandangan nilai bisnis sejumlah alasan lain untuk nilai. Aset berharga untuk bisnis sebagai :
-          fungsi / kegunaan  yang dapat dibuat dari mereka
-          Pinjaman yang dapat didasarkan pada mereka
-          kas mungkin mereka bawa
-          The nilai potensial perlindungan terhadap inflasi dalam kasus aktiva non moneter
Para pendukung exit price percaya bahwa informasi biaya saat ini, secara umum, tidak relevan dengan keputusan investasi umumnya. Ini tidak fokus pada kemampuan perusahaan untuk menggunakan sumber daya keuangan dalam tugas perusahaan  untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan.

I.       Current Cost – Perspektif Global
1.      Current Cost di Negara Amerika Serikat
Pada tahun 1976, Security Exchange Commission (SEC) mengamandemen Rule 3-17 dari peraturan S – X yang mensyaratkan bahwa data biaya pengganti (replacement cost) wajib dituangkan dalam laporan 10-K bagi perusahaan dengan persediaan dan aset produktif yang  nilai totalnya lebih dari US $ 100.000.000 atau lebih dari 10% total asset. Ketentuan ini kemudian disahkan menjadi Accounting Series Release (ASR) 190.
Pada tahun 1979, FASB mengeluarkan Statement 33 yang mensyaratkan pengungkapan atas constant dollar dan data current cost. Dilatarbelakangi oleh terbitnya statement 33 tersebut, SEC mengeluarkan ASR 271 yang membatalkan ASR 190 untuk mendukung statement 33. Kewajiban untuk menyajikan data current cost mendapat pertentangan dari perusahaan. Setelah terjadi perdebatan mengenai kegunaan dari informasi tambahan (suplementary information) FASB kemudian mengeluarkan statement 89 pada tahun 1986 untuk mendesak perusahaan supaya melanjutkan untuk mengungkapkan data tersebut.
Pada statement 33, FASB mensyaratkan perusahaan untuk mengungkapkan informasi mengenai :
-          Laba atas operasi berjalan pada basis current cost pada tahun berjalan menggunakan nominal dollar.
-          Current cost untuk persediaan dan peralatan serta aset tetap pada akhir tahun berjalan menggunakan nominal dollar.
-          Perubahan current cost pada tahun berjalan untuk persediaan dan peralatan serta aset tetap menggunakan dasar constant dollar.
Perubahan atas biaya ini tidak termasuk dalam laba dari operasi berjalan. Perusahaan juga diwajibkan untuk menyajikan informasi current cost dalam dasar nominal dollar selama 5 tahun. Informasi tersebut antara lain :
-          Laba dari operasi berjalan.
-          Laba tiap saham umum dari operasi berjalan.
-          Nilai aset bersih pada akhir tahun pelaporan.
Statement 33 dijalankan sebagai  percobaan selama 5 tahun. Setelah mengumpulkan bukti dan reaksi untuk melengkapi data, FASB mengeluarkan statement 82 yang menghilangkan kewajiban untuk melaporkan  laporan nilai historis/ constant dollar bagi perusahaan yang menggunakan current cost accounting.
FASB masih belum memutuskan apakah akan medukung pandangan financial capital atau physical capital. Oleh karena itu, statement 33 lebih mengutamakan perubahan pada current cost (kenaikan atau penurunan di current cost) daripada holding gain (atau losses) atau penyesuaian maintenance capital.  Meskipun demikian, laba dari operasi berjalan berdasarkan current cost merupakan panduan untuk menilai kemampuan pemeliharaan operasi  dari suatu perusahaan. Ini tidak lain merupakan argumen untuk pandangan physical capital. FASB mecatat bahwa laba dari operasi berjalan tidak dapat mengukur / menunjukkan kemapuan operasi perusahaan secara tepat. Namun demikian, hal ini dipercaya  dapat menghasilkan perkiraan yang memadai.
2.      Current Cost di Negara Inggris
Pada tahun 1975, komite Sandilands yang dibentuk oleh pemerintah inggris merekomendasikan sistem akuntansi current cost. Komite ini menilai  bahwa laporan nilai historis termasuk yang sudah disesuaikan dengan perubahan pada beberapa tingkat harga tidak cukup berguna. Laporan ini menyajikan  opini yang terlalu rumit untuk laporan tingkat  harga yang telah disesuaikan. Untuk memenuhi kebutuhan informasi bagi pengguna, diputuskan bahwa informasi yang relevan adalah penilaian dari keuntungan masa depan yang diperoleh dari aset bersih perusahaan.
Komite meyakini bahwa holding gain mencerminkan kondisi ekonomi saat ini yang berada di luar kontrol manajemen perusahaan dan tidak dapat diindikasikan sebagai aktivitas normal. Komite Sandland memutuskan bahwa holding gain tetap harus diungkapkan tetapi tidak termasuk dalam laba.
Proposal dari komite sandilands ditembuskan kepada pemerintah inggris dan diterima oleh Accounting Standar Comitee. Proses ini kemudian dilanjutkan dengan pembentukan Inflation Accounting Steering Group (IASG) pada tahun 1976. IASG kemudian menyusun draft (ED 18) pada akhir athun 1976 yang berisi panduan pelaksanaan akuntansi current cost bagi perusahaan. Setelah melewati banyak perdebatan, revisi, dan percobaan, Accounting Standar Comitee kemudian mengeluarkan Statement On Current Cost Accounting (SSAP 16) yang mensyaratkan current cost sebagai laporan utama dan nilai historis sebagai data tambahan. Standar ini kemudian digunakan oleh banyak perusahaan besar. Pada tahun 1985, stelah melalui perdebatan panjang, ASC mencabut status wajib atas SSAP 16.
3.      Current Cost di Australia
Di Australia, profesi akuntansi mengeluarkan DPS 1.1 , Statement of Provisional Accounting Standards (PAS) Current Cost Accounting pada bulan oktober 1976. Amanemen dari pernyataan tersebut (PAS 1) dan petunjuk pelaksanaannya dikeluarkan pada bulan agustus 1978. Sistem current cost yang direkomendasikan didasarkan atas kapasitas operasi yang dijalankan perusahaan secara utuh. Pada saat itu diharapkan bahwa sistem yang baru akan menggantikan sistem konvensional secara keseluruhan apabila sistem baru ini sudah familiar di kalangan pengguna. Statement of accounting practice (SAP) 1 Current Cost Accounting kemudian diterbitkan pada bulan November 1983.
Terbitnya SAP 1 menimbulkan perubahan arah yang signifikan. SAP 1 merekomendasikan semua entitas untuk menyajikan laporan akuntansi current cost sebagai tambahan untuk laporan keuangan yang menyajikan nilai historis. Sebagai alternatif, laporan current cost dapat disajikan sebagai dasar laporan keuangan utama untuk menggantikan laporan keuangan yang berdasarkan nilai historis. SAP 1 tidak diterapkan secara penuh di Australia.
4.      Standar Akuntansi Internasional dan Current Cost
Pada pemaparan sebelumnya diketahui bahwa beberapa negara telah mencoba menerapkan sistem akuntansi current cost akan tetapi sistem tersebut tidak dapat diterapkan secara menyeluruh. Pada tanggal 15 Juli 2004, AASB mengadopsi standar akuntansi internasional untuk semua komponen laporan keuangan setelah 1 Januari 2005. Selanjutnya IASB dan FASB sepakat bahwa basis terbaik untuk melakukan pengukuran adalah nilai wajar.
IAS 39/AASB 139 dan IFRS 3/AASB 3 mendifinisikan nilai wajar sebagai nilai sebuah aset apabila digantikan atau nilai hutang apabila dilunasi/ diselesaikan. Pada pasar yang aktif, nilai wajar adalah harga transaksi dan apabila tidak terdapat pasar aktif maka pendekatan untuk menghitung nilai wajar dapat digunakan, antara lain discounted cash flow, option pricing models, depreciated replacement cost, market indexes dan appraisal value.
Meskipun nilai wajar yang diterima pada umumnya adalah harga pasar, pengertian biaya transaksi bukan merupakan sesuatu yang baku dan harga transaksi tidak selalu diterapkan secara konsisten. Sebagai contoh, menurut IAS 39 /AASB 139, nilai wajar untuk marketable securities dan aset keuangan adalah harga jual, untuk held to maturity securities, nilai wajar yang digunakan adalah biaya amortisasi. Menurut IAS 16/AASB 116 untuk Property, Plant, and Equipment, nilai wajar yang dipakai adalah harga perolehan pada saat pemilik benar-benar memperoleh kontrol atas aset tersebut pada saat proses akuisisi. Setelah akuisisi, pada setiap kelas aset harus diputuskan mengenai model pengukuran yang akan diterapkan. Semua aset dalam satu kelas yang sama harus menggunakan prinsip pengukuran yang sama, tetapi tidak semua kelas harus menggunakan model yang sama. Tidak terdapat waktu / periode spesifik untuk revaluasi aset.  IAS 16/AASB 116 mengijinkan tiap entitas untuk memilih antara cost model dan current cost model. Menurut IAS 40/ AASB 140, tiap entitas dapat memilih antara model depresiasi atau model nilai wajar ketika melakukan pengukuran terhadap investment property.
Menurut standar akuntasi internasional, difinisi atas nilai wajar dapat bervariasi mulai dari model biaya perolehan dan harga penjualan sampai dengan model penilaian yang berdasarkan discounted cash flows atau option pricing. Tidak terdapat standar yang menentukan konsep capital maintenanced , oleh karena itu tidak terdapat penerapan yang baku untuk pengukuran pendapatan berdasarkan perubahan atas modal.

J.      Dukungan Terhadap Current Cost Accounting
1.      Pengakuan Prinsip
Pembela historical cost berargumen bahwa  current cost accounting melanggar  prinsip konvensional yaitu keuntungan diakui saat diterima.
Pernyataan ini benar adanya, untuk pengakuan laba ditahan yang belum direalisasi.Pendukung current cost accounting menyatakan bahwa ‘laba ditahan yang belum direalisasi’ telah menunjukkan adanya pergerakan penambahan modal dan harus diakui jika ada cukup bukti untuk menunjukkan adanya perubahan.
Pendukung historical cost dan physical capital theorist menyangkalnya karena perusahaan menghitung keuntungan dari perubahan harga aset tidak lancar. Perubahan harga pasar sama sekali tidak relevan kaitannya dengan keuntungan
2.      Objektivitas dari Current Cost
Pendukung konsep historical cost berargumen bahwa current cost accounting kurang objektif karena sebagian besar perhitungan current cost tidak didasarkan pada tansaksi aktual dimana perusahaan ikut serta.
Sebagai contoh akuntan  tidak lagi memperhitungkan harga pasar berdasarkan prinsip COMWOL. Salah satu alsannya karena standardisasi prosedur dan alasan lainnya mengenai masalah ketersediaan data harga pasar.
Untuk barang yang memiliki harga yang relatif mudah untuk diukur, objektifitas dari current cost masih dapat diterima akuntan. Persediaan, barang baku dan barang jadi masuk ke dalam kategori ini. Bahkan current cost dapat lebih objek dalam menhgitung arus barang yang masuk dan keluar.
Namun untuk perusahaan yang sangat besar nyaris sulit dalam menghitung arus barang. Oleh karena itu untuk mempermudahnya diperlukan asumsi-asumsi antaralain seperti FIFO dan LIFO.
3.      Perubahan Teknologi
Keuntungan dari operasi adalah indikasi bahwa perusahaan membuat kontribusi jangka panjang yang positif trhdp ekonomi, dan proses produksi dilakukan secara efektif.

K.    Current Cost versus Exit Price
Pada kondisi spt apakah digunakan harga keluaran (exit price), misal net realisable value ?Para pendukung teori current cost theories berargumen pada harga masukan (entry price), current cost adalah methode ‘normal’ untuk menilai dengan alasan sbb :
-          Menggunakan exit price melahrkan anomali revaluasi thdp akuisisi karena biaya transportasi, biaya instalasi dan pembongkaran dan akses yang kurang terhadap pasar.  Segera setelah pembelian mesin baru, harga biasannya jatuh jadi kurang dari biaya akuisisi.
-          Menggunakan exit price berdampak pada pendekatan jangka pendek (short term approach).
-          Menggunakan exit prices untuk untuk persediaan barang jadi membawa ke antisipasi keuntungan operasi sebelum point of sale karena persediaan dinilai lebih dari current cost.








FASB disusun data pada semua perusahaan di tahun 1980. Ditunjukkan pada tabel di bawah ini.
Tabel 1: Perbandingan pendapatan historical cost dan current cost
BIAYA HISTORIS (dolar Nominal)
BIAYA HISTORIS (dolar Konstan)
BIAYA LANCAR (dolar Nominal)
(AS Miliaran Dolar)
Pendapatan dari operasi (sebelum pajak)

$ 172

$ 120

$ 107
Pajak
   73
   73
    73
Pendapatan dari operasi
$   99
$   47
$   34

Perbedaan antara historical cost dan curent cost pada item laba dari operasi tergantung dari laba ditahan yang belum direalisasi.
Jika kita mengikuti logika Edwards dan Bell, kita dapat menyimpulkan bahwa laba $99 milyar historicl cost terdiri dari :
-          $34 milyar dari aktivitas operasi yang berada dibawah kontrol manejemen.
-          $65 milyar dari aktivitas penahanan (laba ditahan) dimana biasanya kurang berada di bawah kontrol majemen.

L.     Empirical Studies
1.      Australia
a.       Barton
Berdasarkan studi pada tahun 1970 an, tertinggalnya harga saham Australia erat kaitannya dengan penggunaan current cost profit perusahaan dan historical cost profit. Baron berpendapat bahwa jika perusahaan melaporkan informasi yang berguna bagi para investor dalam menilai saham dan keputusan investasi mereka, maka current cost financial report nyata-nyata unggul dari pada historical cost reports.
b.      Ferguson dan Wines
-          Melakukan survey berapa banyak perusahaan yang menggunakan SAP 1 current cost  data dalam menyiapkan laporan keuangannya.
-          Mengirimkan kuesioner ke sampel 200 perusahaan yang terdaftar di Pasar saham Sydney selama tahun 1984. Hasilnya hanya 3,7 % perusahaan yang menggunakan current cost accounting.
-          Kesimpulannya bahwa SAP I current cost accounting  tidak dipakai oleh komunitas bisnis
2.      Amerika Serikat
a.       Tim peneliti University of Texas
-          Menggunakan model simulasi komputer untuk memeriksa perbedaan historical cost profit dan current value profit.
-          Hasil simulasi :
Pengukuran dengan current value lebih baik dari pada historical cost profit dalam hal memprediksi kas flow dari operasi pada tahun yang akan datang.
1)      Companies with increasing cost combined with declining sales volume are particulary prone to pay dividends out of capital rather than profit.
2)      Across abroad range of inflationary conditions, the failure of historical cost accounting to adjust for inflation causes dramatic differences between historical cost and current value performance trends.
b.      Dickerson
-          Menyelidiki penerapan prosedur current cost accounting pada produser kecil.
-          Kesimpulan : penggunaan computer akan mengurangi waktu dan biaya.
  1. Ro; Gheyara and Boatsman; Beaver and Landsman; Schaefer; Friedman, Buchman and Melicher, dkk
3.      New Zealand
a.       Duncan dan Moores
-          Menguji asersi direktur New Zealand Company yang menyatakan bahwa current cost information tidak bermanfaat bagi investor dalam membuat keputusan.
-          Menyimpulkan bahwa current cost accounting memberikan informasi yang lebih relevan dan handal dari pada ihistorical cost statements.
b.      Wong
-          Mempunyai beberapa hipotesis yaitu :
1)      Perusahaan yang mempunya beban pajak yang besar kemungkinan besar akan menggunakan current cost accounting untuk mempengaruhi kebijaka pajaknya.
2)      Perusahaan dengan pengaruh rendah lebih mungkin menggunakan current cost financial statement dari pada perusahaan yang besar.
3)      Perusahaan yang under scrutiny for apparently monopolistic behavior would use curret cost reporting.
4.      United Kingdom
a.       Peasnell, Skerratt dan Ward
-          Menyelidiki pengaruh the impact of the experimental current cost standard (SSAP 16) onshare returns pada pasar saham London.
-          Kesimpulannya :
1)        Investor menggunakan current cost information dalam their short-term portofolio decision.
2)        Share return in the long term berkaitan erat dengan historical cost data dari pada dengan current cost financial data.
b.      Thompson dan Watson
-          Menguji onformasi dalam current cost data dengan cara menganalisa keputusan manajemen mengenai deviden .
-          Kesimpulan : historical cost profits pada umumnya memberikan penjelasan terbaik dalam perubahan devidens.


M.   Empirical Evidence
1.      Capital market research
a)      Supplementary current cost data not useful.
b)      Tidak ada nilai yang relevan untuk harga saham.
c)      Financial capital tidak digunakan untuk penilaian
2.         Watts & Zimmerman alternative interpretations of results
a)      Current cost data tidak berisi informasi, karena tidak relevan untuk menilai sukuritas atau pasar modal mempunyai sumber informasi yang lain mengenai current cost.
b)      Current cost data berisi informasi, tetapi informasi tersebut kurang mencukupi bagi perusahaan untuk mengungkapkan data.
c)      Current cost data mewakili perbedaan yang siknifikan dari traditional historical cost information dan pelaku pasar tidak belajar untuk mengevaluasi atau memprosesnya.
d)     Empirical Studies menggunakan metoda statistic yang tidak cukup kuat untuk menunjukkan pengaruh informasi.
3.      Financial asset current costs appear to have more value relevance














DAFTAR PUSTAKA
Godfrey, Jayne, Allan Hodgson, Ann Tarca, Jane Hamilton, Scott Holmes (2010),
            Accounting Theory, 7th ed, John Wiley & Sons, Inc.
Suwardjono (2010), Teori Akuntansi Perekayasaan Pelaporan Keuangan, Edisi       
            ketiga, BPFE.
Yolinda Yanti Sonbay. (2010) Perbandingan Biaya Historis Dan Nilai Wajar.                                                                                                    
            Jurnal Kajian Akuntansi. Vol.2 No.1






Perbedaan:                                                    financial                                 Physical
Sales revenue (100X18)                                 1800                                        1800
Cost of sale (100X10)                                    1000                                        1000
                                                                           800                                         800

Profit                                                              800                                            -
Holding gain  (100x2)                                    -                                                 200
                                                                        800                                            600


Tidak melihat mana yang lebih untung.. tidak melihat untung atau tidak untuk tapi kebijakan ini hanya untuk memberikan informasi yang nantinya dapat memberikan pengaruh terhadap proses pengambilan keputusan